Desahan Enak

Berbagi ceita dewasa dan juga cerita mengenai kenikmatan dunia.

Saturday, December 30, 2017

Desahan Enak





Cerita Dewasa - Perkenalkan namaku Diane, seorang ibu rumah tangga etnis Chinese yang baru berumur 26 tahun. Suamiku, Jonny, adalah seorang wiraswasta yang sudah cukup sukses di umurnya yang baru menginjak 30 tahun. Aku yang tidak diperbolehkan bekerja, setelah menikahi Jonny, memilih menghabiskan waktu di tempat fitness. Berkat itu pula aku bisa membentuk tubuh yang bisa membuat semua laki-laki menoleh. Jonny sebagai suami yang baik mampu membuat hidup kami lebih dari cukup. Sewaktu kami menikah, dia membeli sebuah rumah di kawasan elite untuk kami. Setelah 1 tahun, kami juga membeli beberapa rumah di tempat lain yang kami kontrakkan. Karena bisnis suamiku yang semakin meroket, suamiku semakin sering pergi ke luar kota. Praktis meninggalkan aku sendirian di rumah ketika malam hari, karena pembantu hanya bisa bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Jonny akhirnya menyewa seorang satpam rekomendasi Nuri, pembantu kami, untuk berjaga di rumah. Maklum, meskipun perumahan elite, tetapi perumahan ini sepi sekali dan jarak satu rumah ke rumah lain relatif jauh.

Aku sebenarnya agak senang dgn kehadiran satpam baru yg bernama Yanto itu. Pernah beberapa kali aku memergoki dia sedang mengintip ke belahan dadaku ataupun pahaku. Tatapan matanya seolah olah menelanjangiku. Yang aneh, bukan merasa tersinggung atau marah, aku malah menyukainya menatapku. Memang untuk ukuran tubuhku, payudaraku terkesan besar, dengan lingkar dada 34 dan cup D, ya benar D, sangat sulit bagiku untuk tidak menarik perhatian. Aku yang juga mempunyai rambut panjang dan tiga tindikan di telinga dan satu di hidung membuatku semakin terlihat menonjol. Rambut yang hampir selalu ku kuncir kuda semakin jelas memperlihatkan pesonaku. Leherku yang jenjang, dadaku yang membusung padat dan kilau perhiasan di setiap lobang tidikanku. Di tempat fitness, di mall, di mana saja aku selalu bisa menarik perhatian banyak orang, terutama kaum adam. Apalagi hampir seluruh baju yang kupunya berpotongan sexy. Jonny sendiri tidak pernah melarang aku berpakaian sexy. Dia justru semakin menyukainya, dia bahkan pernah bilang kepadaku kalo dia bangga punya istri yang sexy. Aku pun akhirnya terbawa dengan cara berpikirnya. Aku jadi merasa bangga jika tubuhku bisa menarik perhatian orang.

Tetapi, aku tetap setia kepada suamiku. Aku memang masih perawan ketika menikahi Jonny, dan aku bangga akan itu.Seks dengan suamiku selalu monoton, kecuali ketika kami selesai menonton video porno. Jonny akan selalu merayuku untuk mengoral penisnya yang selalu kutolak mentah mentah. Aneh memang, tapi aku tidak tau kenapa aku selalu merasa enggan memasukkan penis Jonny ke mulutku. Pernah juga sesekali dua kali dia meminta aku untuk bersedia melakukan anal seks, yang selalu berakhir dengan aku tersinggung. Aku mempunyai beberapa sex toys yang kubeli di luar negri yang selalu menemaniku ketika suamiku tidak bisa memuaskanku. Jonny tidak mengerti akan hal itu. Egg vibrator adalah salah satu favoritku di antara beberapa mainanku. Tiap kali aku masturbasi, aku selalu membayangkan berhubungan seks dengan orang lain selain Jonny. Pak Yanto adalah object imajinasiku yang paling sering sejak dia bekerja di sini. Hampir setiap hari aku masturbasi sambil membayangkan satpamku ketika suamiku tertidur.Aku membayangkan betapa panjang dan besarnya penis pak Yanto, dan bagaimana dia akan membuatku melayani nafsu seksnya ketika suamiku sedang tidak di rumah. Di dalam fantasi seksku, aku selalu membayangkan duduk bersimpuh di depan pak Yanto dan aku membimbing penisnya dan menjejalkannya ke mulutku. Suatu hal yang selalu aku tolak ketika suamiku memintanya. Mukanya yang buruk dan giginya yang sedikit tongos serta perawakannya yang hitam dan besar selalu membuat pak Yanto menghiasi khayalanku. Selalu kubayangkan aku adalah seorang pelacur murahan yang sangat suka melayani pak Yanto.

Beberapa minggu setelah pak Yanto bekerja di tempat kami, Jonny harus pergi ke luar pulau untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku mengantarnya ke bandara, menunggu sampai dia tidak terlihat dan akhirnya akupun kembali pulang ke rumah. pukul 7 malam aku baru sampai di rumah. Kupencet remote pagar dan aku parkir mobilku di dalam. Pak Yanto membukakan pintu mobilku, aku bisa merasakan tatapannya yang tajam. Memang saat itu aku memakai rok mini dan blouse yang berbelahan dada rendah. Walau aku tau pak Yanto bisa melihat kedalam bajuku saat aku hendak keluar dari mobil, aku tidak berusaha menutupinya. Aku seakan bangga akan hal itu. Tak tau mengapa, aku bahkan tidak berusaha menutupi rokku saat aku keluar dari mobil. Dan aku tau jelas saat kaki kananku menginjak lantai, pak Yanto dengan jelas melihat g-string merahku. Darahku pun berdesir, aku bisa merasakan putingku mengeras. Bukannya segera turun dari mobil, dengan santainya aku mencabut kunci mobil dan selama sekian detik itu, pandangan pak Yanto tidak pernah lepas dari g-stringku. Akupun masuk ke dalam, membiarkan pak Yanto mengawasi lenggak lenggok ku berjalan meninggalkan dia.

Di dalam kamar, aku sempat terheran heran dengan kejadian itu. Ada apa denganku ini, mengapa aku bertingkah seperti seorang wanita murahan. Belum pernah sekalipun aku merasa terangsang seperti ini. Aku meraba ke dalam g-stringku, basah. Aku pun melucuti baju yang kukenakan, dan masuk ke kamar mandi untuk berendam. 45 menit dengan cepat terlewati tanpa kusadari. Kukeringkan tubuhku dan akupun kemudian rebahan di atas tempat tidur. Pikiranku kembali ke saat di mana aku memberikan tontonan g stringku ke pak Yanto. Keinginan untuk kembali menggodanya semakin kuat kurasakan. Semakin lama memikirkan itu, semakin basah aku rasakan di antara kakiku. Aku berjalan ke arah cermin, kuperhatikan kedua payudaraku yang membusung menantang dengan kedua putingnya yang berwarna merah kecoklatan. Kuremas remas pelan kedua payudaraku. Aku mendesah ketika tanganku secara tidak sengaja mengenai putingku. Ketika tanganku turun ke arah memek ku yang hairless, kurasakan lendir melekat di jemariku. Kujulurkan lidahku, kuoleskan lendir itu ke cermin di depanku, tepat di daerah lidahku yang sedang menjulur.

Kutatap tajam tajam kedua mataku di depan cermin, "Dasar lu Perek Murahan!!" kataku kepada bayanganku di depan cermin sambil kuremas remas kedua payudaraku. Kurasakan sengatan listrik di sekujur tubuhku ketika aku mengatai diriku sendiri. Tidak tau mengapa aku sangat suka mengata ngatai diriku sendiri sebagai wanita murahan."Ahhh...." aku mendesah waktu kupencet keras kedua putingku. Kudekatkan mukaku ke depan cermin, tanpa rasa jijik, kujilat cairan vaginaku sendiri yang melekat di cermin. Tingkah gila yang kulakukan benar benar membuatku semakin terangsang. Kusambar sebatang lipstick merah terang dan kusapukan di bibirku. Keingingan untuk kembali menggoda pak Yanto kembali menerpaku.

Akupun mengendap endap turun sambil memakai mantel handuk berwarna putih, aku mengintip pos satpam dari celah pintu garasi. Aku cuma bisa melihat wajah pak Yanto yang tertidur. Akupun masuk ke dalam dan mengambil sebotol air dingin dan dengan pelan aku membuka pintu garasi. Aku berjalan tanpa menimbulkan suara ke arah pos satpam, tapi betapa kagetnya aku ketika aku melihat bahwa pak Yanto tidak memakai celana dan semua kancing bajunya terbuka. Ternyata pak Yanto sedang tertidur, setelah masturbasi. Aku masih bisa melihat spermanya yang berceceran di lantai masih belom mengering. Bukannya memalingkan muka, aku malah bengong melihat besarnya batang yg tergantung di antara kakinya. Bukan suatu hal yang lumrah bagiku melihat penis yang hitam, besar dan berurat. Jauh lebih besar dari penis suamiku.Tubuhnya yang hitam, perut dan dadanya yang terlihat keras, kumisnya yang tebal, dan jembutnya yang lebat membuatku semakin bingung harus berbuat apa. Aku tidak ingin berhenti melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tetapi aku aku juga takut jika tiba tiba pak Yanto terbangun dan memergoki aku tengah melihatnya.

Tetapi, bukannya segera melangkahkan kakiku dan segera beranjak dari tempat itu, tanganku dengan sendirinya bergerak ke kedua buah dadaku. Sambil tetap melihat penis di hadapanku, aku mulai menyentuh diriku sendiri, kumainkan kedua putingku, kuremas remas payudaraku dari luar mantelku. Akal sehatku menyuruhku kedua tanganku berhenti, tapi rangsangan demi rangsangan di payudaraku membuat akal sehatku kalah. Kutarik pelan tali yang mengikat mantelku, kubuka mantelku dan kulemparkan ke teras rumahku. Sekarang aku telanjang di depan seorang lelaki yang bukan suamiku. Angin malam menerpa tubuhku membuatku menggigil. Aku berjalan pelan mencoba tidak mengeluarkan bunyi apapun. Kuamati penis hitam itu dengan seksama. Kepalanya yang hitam, dan batangnya yang panjang dan besar dan berurat, kedua buah pelir yang berukuran jumbo dan tergantung bebas, bulu jembutnya yang tebal seolah menunjukkan kejantanannya. Ketika kulihat ke lantai, banyak sekali ceceran sperma yang tumpah di sana. Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam pos satpam yang berukuran 1x2 meter itu. Kurasakan bau sperma yang menyengat. Kulihat tetesan keringat mengalir dari dada pak Yanto. Dengan pelan, aku berjongkok di hadapannya. Wajahku menjadi sejajar dengan penisnya. Ketika kulihat dia masih tertidur, aku beranikan diri memegang kepala penisnya dengan ujung jariku. Ketika jariku menyentuh kepala penisnya, kulihat mata pak Yanto masih terpejam. Kudekatkan wajahku ke penis itu, kuhirup aroma sperma yang sangat menyengat. Ingin sekali kukecup pelan penis itu tapi segera kuurungkan niatku.

Pelan pelan kubuka lebar lebar kedua kakiku dan kugesek gesekkan telapak tanganku ke klitorisku. Tangan kiriku menyapu puting payudaraku dari kiri ke kanan. Kunikmati permainan kedua tanganku sambil memejamkan mata. Kutahan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara rintihan. Baru kali ini aku bertindak senekat ini. Rasa deg degan yang menyerangku membuatku semakin bersemangat. Beberapa kali aku harus sedikit membuka mataku untuk melihat ke wajah satpamku yang masih tertidur. Kubayangkan aku memberi satpamku itu oral sex yang belom pernah kulakukan kepada suamiku. Beberapa waktu berlalu dan aku sampai di puncak orgasme ku. Kurasakan nafasku yang memburu, jantungku yang berdetak sangat kencang serta cairanku yang menetes di tanganku. Meskipun aku baru orgasme, aku masih sangat terangsang. Hasratku yang belom terpenuhi membuatku ingin sekali lagi melakukan masturbasi.

Dengan pelan kutinggalkan pos satpam itu, mengambil mantelku dan segera masuk ke rumah. Kubuka pintu kamar dan kucari dildoku yang berukuran agak besar sambil melepas mantelku lagi. Kucium dildo itu dan kuarahkan menuju vaginaku. "Aaahhhh" rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku ketika dildo itu menyentuh kugesek gesekkan ke memekku yang sudah basah. Kuangkat dildo itu dan kumasukkan ke mulutku, kujilat jilat sambil kubayangkan penis pak Yanto. Ketika batang dildo itu sudah hampir seluruhnya kulumuri dengan ludahku, kubimbing dildo itu ke pintu masuk lubang kenikmatanku sementara kurebahkan tubuhku di atas kasur.

"Ogghhhhhkkkk....... Pak Yanto enak banget kontol bapak" kataku berfantasi sedang disetubuhi oleh pak Yanto sambil mendorong masuk seluruh dildo itu.

Kukeluar masukkan dildo itu pelan pelan sambil aku mendesah dan meracau. Aku mulai tenggelam dengan permainanku sendiri. Kupejamkan kedua mataku dan setelah beberapa saat, aku mulai berkata kata jorok membayangkan pak Yanto sedang menyetubuhiku. Aku meracau memohon kepada pak Yanto untuk menyetubuhi pelacurnya keras keras.

"Iya pak.......Aaahhhhhh saya mau keluar pak!!! Perek bapak mau keluar..........." Kataku agak keras.

"Enakan yang aslinya Bu" Tiba tiba ada suara dari depanku ketika aku sudah sangat dekat dengan orgasme.

Betapa kagetnya aku ketika aku membuka mataku dan melihat pak Yanto sedang merekamku masturbasi dengan handycam.


Pak Yanto

"Bapak, Se-sedang apa di sini??!!! Keluar pak!!! Keluar sekarang!!!" kataku sambil menutupi kedua payudaraku dengan tangan kananku dan daerah antara kakiku dengan tangan kiriku karena terkejut dengan kehadirannya. Tiba tiba aku seperti diserang gelombang listrik yang sangat dahsyat ketika gelombang orgasme mulai melandaku. Pantatku mengangkat dan kedua kakiku mulai terbuka kembali. Kepalaku sedikit terdongak ke atas dan mulutku mendesah tertahan. Kulihat pak Yanto sedang merekam secara bergantian ke arah wajah dan vaginaku yang sedang tertusuk dildo.

"Enak ya bu masturbasi sambil bayangin saya? Aslinya lebih enak lagi bu. Dijamin bisa bikin ibu kelojotan!" katanya sambil memilin putingku membuatku semakin tersentak. Setelah orgasme itu reda, seluruh tulang dalam tubuhku seolah olah telah patah. Semua persendianku terasa copot satu persatu. Aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk menepis tangan pak Yanto yang menggantikan posisi dildoku. Dicelupkannya dua jemari tangannya ke dalam lubangku yang telah basah kuyup. Ketika jari itu ditarik keluar, pak Yanto memberi komentar tentang jemarinya yang basah oleh lendirku sambil dimain mainkannya jemari itu di depan handycamnya.

"Pak, to-tolong hapus rekaman itu pak!" kataku sambil menutupi tubuhku sekenanya.

"Rekaman yang mana bu? Yang tadi ibu masturbasi di pos atau yang baru saja?" ucapannya membuatku kaget.

"Ba-bapak merekam kejadian di pos?" tanyaku tidak percaya.

"Iya lah bu, dari pertama saya kerja di sini juga saya suka ngerekam ibu diam diam, tapi ya hari ini saya lagi beruntung aja bu, bisa ngerekam ibu lagi masturbasi di pos dan di sini" katanya sambil nyengir.

"Terus se-sekarang ba-bapak maunya apa? Saya bayar pak buat videonya, berapa yang bapak mau?" kataku bersikap tegar.

"Wah bu, berapapun uang yang ibu bayar ke saya, saya yakin masih lebih tinggi jika saya tawarkan ke pak Jonny, bener kan bu?" katanya masih dengan senyum licik.

Satpam kurang ajar, batinku dalam hati. Tapi memang salahku sendiri berani beraninya bermasturbasi di pos satpam di hadapan pak Yanto.

"Bapak maunya apa? Tolong pak jangan jual video itu ke suami saya" pintaku.

"Kalo ga boleh dijual trus saya dapat apa?" tanyanya sambil tersenyum makin lebar.

"Pak tolong pak, saya lakukan apa saja tapi tolong jangan sampai video itu tersebar pak" pintaku sambil memohon.

"Saya sih mau bu tidak menyebarkan video ini, tapi apa ibu mau menuruti perintah saya?" tanyanya penuh dengan ancaman.

"Ma- Maksud bapak?" tanyaku tidak mengerti.

"Ya contohnya kalo saya lagi pengen ngentotin ibu, ibu harus mau saya entotin kapan saja" katanya dengan santai.

"Ta-tapi pak, saya ini istri orang" kataku.

"Ya kan itu penawaran dari saya bu, kalo ibu ga mau ya kan ga apa apa. Saya juga tidak memaksa. Saya bisa jual ke orang lain kok bu" katanya membuatku shock.

"Jangan pak!" sergahku.

"Begini aja bu, kalo ibu masih bingung, saya kasih ibu waktu 15 menit untuk berpikir. Kalo sudah ibu pikir matang matang, ibu bisa cari saya di pos saya" katanya sambil mematikan handy cam nya dan berjalan ke arah pintu.

Ketika pak Yanto sudah tidak terlihat lagi, aku segera terduduk lemas. Kusadari dildo ku masih menancap dengan tenangnya di dalam vaginaku. Kucabut dildo itu pelan pelan dan kutaruh di lantai. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin video itu sampai jatuh ke tangan suamiku. Tapi aku juga tidak mau kalau aku harus melayani nafsu duniawi satpamku. Aku benar benar dalam masalah besar. Akhirnya setelah kupikir pikir lagi, aku lebih memilih melayani satpamku daripada suamiku mengetahui kenakalanku.

Kusambar mantelku dan dengan agak tergesa gesa, aku menuruni anak tangga. Kulihat pintu garasiku masih terbuka. Kutarik nafas dalam dalam mencoba meyakinkan diri jika ini adalah jalan yang terbaik. Kulangkahkan kakiku menuju pos satpam yang terletak di ujung rumah. Kulihat pak Yanto tengah berdiri di ambang pintu pos dan terlihat senang melihatku berjalan ke arahnya.

"Gimana bu? Sudah ibu pikir baik baik?" tanyanya sambil mengarahkan handy cam itu ke wajahku.

"Sudah pak" kataku sambil menunduk malu.

"Jadi gimana bu? Boleh saya sebarkan video ini?" tanyanya.

"Jangan pak" sahutku.

"Lha trus gimana?" tanyanya pura pura bego.

"Sa-saya mau nurutin perintah bapak asal suami saya tidak tau ttg ini pak" kataku sambil menunduk.

"Semua perintah saya?" tanyanya.

"I-iya pak, semua" kataku tetap sambil menunduk.

"Kalo ibu menuruti perintah saya, ibu jadi budak saya dong? Emang ibu mau jadi budak saya?" tanyanya membuatku kaget setengah mati.

Budak??? pikirku. Aku jadi budaknya??? pikiran itu terus berkecamuk di otakku. Ada rasa jijik ketika mendengarnya mengatakan itu. Tapi ketika aku membayangkan penisnya yang hitam besar itu, rasa jijik itu perlahan lahan hilang dari pikiranku.

"Gimana bu? Ibu mau jadi budak saya?" tanyanya lagi.

"Ta-tapi pak, suami saya gimana?" pintaku.

"Ya ga gimana gimana toh bu. Ibu tetap layani saja suami ibu kayak biasa, tapi kalo suami ibu sedang tidak di rumah, ibu jadi milik saya. Gimana?" katanya sok diplomatis.

Aku hanya bisa mengangguk tanda setuju mendengar itu.

"Apa bu? Saya ga dengar" sahut pak Yanto.

"Iya pak, saya mau" kataku.

"Ayo bu, sekarang buka mantelnya" perintahnya.

Kubuka satu satunya tali pengikat yang ada di mantelku, pak Yanto segera membuangnya ke lantai. Kemudian pak Yanto mendekatkan kameranya ke wajahku. Ketika aku hendak menundukkan wajahku, pak Yanto segera menahannya daguku dengan tangannya dan mengangkat wajahku. Tanganku secara otomatis menutupi payudara dan vaginaku.

"Lipstick ibu tebel kayak perek di jalanan" katanya singkat.

"Lihat toketnya dong bu" perintahnya ketika dia menyorot kedua payudaraku yang kututupi dengan tanganku.

Dengan pelan kuturunkan tanganku dari payudaraku, tapi Pak Yanto segera menarik turun tanganku. Kedua payudaraku terpampang dengan bebas. Pak Yanto merekamnya dari berbagai sudut. Ditaruhnya kedua tanganku ke samping tubuhku, dan dia berkeliling memutariku sambil merekam setiap senti tubuhku.

"Baru kali ini saya lihat toket segede ini tapi ga melorot. Ini asli bu?" tanyanya.

"A-Aasli pak" kataku.

"Ooo... Emang beda ya perek rumahan sama perek jalanan. Bener ga?" pak Yanto bertanya sambil melihat mataku.

Karena aku tidak menjawab, pak Yanto membetot putingku dengan keras.

"Ahhh Ampun pak" kataku sambil menahan tangan pak Yanto.

"Oh ga bisu ternyata" sindirnya.

"Ikut saya!" perintahnya.

Segera kulangkahkan kakiku mengikutinya dari belakang. Pak Yanto yang masih berpakaian lengkap, mengambil mantelku dan berjalan masuk ke rumahku lewat pintu garasi. Ketika sampai di ruang keluarga, dia segera melemparkan mantelku ke tanah. Direbahkannya tubuhnya di sofa sambil tangannya memberi aku kode untuk duduk di karpet di depannya. Kulihat pak Yanto masih tersenyum senyum penuh kemenangan melihatku duduk bersimpuh di hadapannya.

"Buka celana saya!" perintahnya tegas.

Dengan berat hati, tanganku mulai membuka celana pak Yanto. Penis hitam itu segera muncul dari balik celananya. Setelah dua kali aku melihatnya dari jarak dekat, rasa kagum masih tersirat di mataku. Betapa hitam dan besarnya penis di depanku itu. Kurasakan nafasku mulai memberat ketika aroma penis itu mulai menusuk hidungku. Bulu kemaluan yang menghiasi pangkal batangnya seperti hutan hitam yang sangat lebat. Kulihat kedua buah pelirnya yang besar ditumbuhi bulu bulu membuatku menelan ludah.

"Nunggu apa?" katanya menantang.

Kupegang batang itu dengan tanganku dan kurasakan temperatur batang itu yang lebih panas dari tanganku. Terlihat jelas kukuku yang selalu kurawat dengan manicure, kulit tanganku yang putih sangat kontras dengan batangnya yang hitam. Kukocok perlahan dan kulihat batang itu mulai membesar secara teratur. Mulutku menganga ketika penis itu sudah membesar melebihi milik suamiku. Batang itu berdiri dengan keras, sungguh sangat besar. Kulihat di ujung penis itu ada setitik cairan bening. Kulihat juga ada otot otot yang menonjol di sekeliling batang penis itu. Ketika kukocok batang itu dengan tanganku, pak Yanto melepaskan rintihan tertahan. Kucoba memegangnya dengan kedua tanganku. Setelah kedua tanganku melingkari penis itu, kulihat kepala penis itu tidak tergenggam olehku. Berbeda dengan milik suamiku yang hanya butuh satu kepalan tanganku.

Kulihat pak Yanto masih merekam setiap gerakanku. Menikmati mimik wajahku yang menyiratkan kekaguman. Ku elus pelan batangnya dari atas ke bawah dengan tanganku, kuraba dan kumainkan kedua pelirnya tanpa disuruh. Penis itu sungguh membuatku kagum dan aku yakin satpamku tau akan itu. Tanpa kusadari, aku mulai menggeleng gelengkan kepalaku dan mulai mengocoknya dengan teratur.

"Mulutmu belom pernah dimasuki kontol kan?" tanyanya.

"Be-belom Tu-Tuan" kataku gugup.

"Wah mulutnya masih perawan" katanya di dekat handy cam sembari tertawa.

"Sekarang bilang ke kamera kalo mulut kamu akan segera diperawani oleh kontol saya" katanya dengan senyum menungging.

Dipermalukan seperti itu membuat bulu tengkukku berdiri. Sambil tetap kupegang penis itu dengan tanganku, aku menatap ke kamera lekat lekat.

"Sebentar lagi, mulut saya akan segera diperawani oleh satpam saya" kataku kepada kamera itu.

"Kurang menantang, kurang lengkap, kurang senyuman dan kerlingan mata. Ulangi!!!" bentaknya.

"Ba-baik Tuan" jawabku tergugup.

"Sebentar lagi, mulut saya yang belom pernah dimasuki oleh kontol suami saya akan segera diperawani oleh kontol satpam saya" kataku dengan tersenyum di bagian akhir dan mengerlingkan mataku. Kurasakan angin dingin meniup punggung dan tengkukku.

"Cium kepalanya!"

Kuarahkan penis itu ke mulutku dengan tanganku. Kukecup pelan ujung kepalanya, dan kurasakan lendir yang tadinya berada di ujung penis itu segera berpindah ke bibirku.

"Keluarin lidahmu dan jilati dari bola naik ke kepala!"

Kukeluarkan lidahku, dan kudekatkan wajahku ke penis itu. Dengan jarak sedekat itu, aroma menusuk penis itu segera memenuhi hidungku. Kurasakan kedua putingku mengeras bersamaan lidahku menyentuh kulit keriput di buah pelirnya. Kurasakan rasa asin mulai menghinggapi lidahku. Kuangkat kepalaku ke atas dengan lidahku masih menempel di kulitnya hingga aku sampai ke ujung kepalanya.

"Salah!!! Perek Goblok!!!" Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Tidak terlalu keras untuk membuatku terjatuh tapi kurasakan cukup panas di wajahku.

"Keluarkan lidahmu!!!" bentaknya sambil berdiri dan menjambak rambut belakangku.

Sekarang penis itu berada tepat di depanku. Bergoyang goyang di depan mataku. Menyebarkan aroma yang menusuk hidungku. Kujulurkan lidahku keluar dan dengan kasarnya ditariknya kepalaku sehingga buah pelirnya masuk ke dalam mulutku. Masih dengan lidah yang terjulur, ditekannya kepalaku ke penisnya dan ditariknya rambutku ke atas, membuat seluruh lidah dan mulutku merasakan rasa penisnya.

"Kayak gitu!!! Ulangi sendiri!!!" kembali dia membentakku sambil mengacungkan tangannya yang terbuka.

Kujulurkan lagi lidahku dan kuulangi menjilati buah pelir itu ke atas sampai ujung kepalanya.

"Pinter!!!" katanya sambil mengelus kepalaku.

Anehnya aku merasa sedikit bangga ketika pak Yanto memujiku. Kurasakan ludahku yang terasa asin memenuhi mulutku.

"Enak kan rasa kontol saya?" katanya dengan nada mengancam.

"E-Enak Tuan" kataku kesulitan dengan ludah yang memenuhi mulutku.

"Telan!" ujarnya pelan namun penuh otoritas.

Gluk! Gluk! Karena ada rasa jijik yang hinggap di hatiku, aku sedikit kesulitan menelan ludahku sendiri.

"Buka mulutmu!" katanya lagi setelah melihatku tenggorokanku bergerak gerak.

Kubuka mulutku dan kurasakan jarinya masuk ke dalam mulutku dan memain mainkan lidahku kututupkan bibirku dengan jarinya masih di mulutku.

"Perek saya ga ada yang meludah!!! Selalu telan!!! Ngerti?" tanyanya dengan mata melotot.

Dengan jarinya yang masih menyumpal mulutku, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

"Pinter" katanya sambil menarik jarinya pelan pelan dan kembali duduk di sofa.

"Sekarang jilati kontol saya, dan masukkan ke dalam mulutmu dan sedot sekuat tenaga! Saya ingin kamu pikir pakai otak kamu sendiri gimana caranya muasin saya dengan mulutmu! Bisa kan?" pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.

Ketika tanganku meraih penis itu dan mengarahkannya ke mulutku, pak Yanto segera menepis tanganku dan menaruh kedua tanganku di belakangku. Aku mengerti apa yang diinginkannya. Kukecup pelan buah pelirnya satu persatu dan kujilati batang penisnya seakan akan aku sedang menjilati es krim. Ketika lidahku sampai di ujung penisnya, kukecup kepalanya dan kutekan kepalaku kebawah. Penis itu segera menyeruak masuk ke dalam mulutku. Kunaik turunkan kepalaku secara perlahan memberika kenikmatan kepada sang pemilik batang itu. Kucoba memasukkan seluruh penis itu ke dalam mulutku, tapi aku hanya bisa memasukkan kurang lebih setengah dari keseluruhan panjangnya. Pak Yanto terus mendesah nikmat sambil mengarahkan kameranya ke wajahku.

Dihentikannya gerakan kepalaku yang maju mundur dengan dijambaknya rambutku. Kutatap kedua matanya yang mengisyaratkan sedikit ketidakpuasan. Ditekannya kepalaku kuat kuat hingga penisnya menekan nekan tenggorokanku, membuatku serasa ingin muntah. Air liurku segera menetes ke luar turun ke buah pelir pak Yanto. Kedua tanganku mencoba mendorong tubuhku menjauh, tetapi pak Yanto semakin kuat menahan kepalaku dan menyodokkan penisnya lebih keras. Pak Yanto tau aku sudah kesulitan bernafas saat kedua bola mataku melotot meminta ampun. Ditariknya penis itu dari mulutku dan kulihat banyak sekali lendir mulutku yang menempel di sekitarnya. Dengan nafas yang tersenggal senggal, dan rasa penis memenuhi mulutku, rasa mual kembali menderaku. Kucoba menarik nafas dalam dalam untuk mengurangi rasa mual, tapi ketika aku menelan liurku, rasa mual kembali menerpaku.

Dijambaknya rambutku dan dimasukkannya pelirnya ke dalam mulutku. Kemudian ditampar tamparkannya penis itu ke wajahku. Aku merasakan basah di wajahku yang terkena pukulan itu. "Yang rileks tenggorokannya" katanya pelan.

Dibimbingnya kepala penis itu masuk ke dalam mulutku dan dimasukkannya penis itu pelan pelan hingga menyentuh ujung mulutku.

"Rileks, rileks" katanya lagi.

Kucoba untuk tidak melawan dan memejamkan mataku. Segera kurasakan penis itu menerobos masuk ke tenggorokanku. Membuatku kaget dan merinding. Hidungku menyentuh perutnya dan bulu jembutnya seakan akan menggelitik wajahku. Ditariknya penis itu memberiku kesempatan bernafas dan kemudian ditusukkannya lagi ke dalam mulutku. Hal itu berulang ulang terus selama beberapa menit.

"Apa ibu tau jika ibu ini mempunyai bakat untuk memuaskan banyak lelaki? Ibu adalah wanita pertama yang mampu menelan seluruh kontol saya di hari pertama." katanya dengan penisnya masih tertancap di tenggorokanku.

Ditariknya penis itu dan dielus elusnya kepalaku. Dimasukkannya kepala penis itu ke mulutku lagi dan menyuruhku menghisap penis itu kuat kuat. Ada perasaan aneh dan menyenangkan ketika kuhisap penis itu sampai kedua pipiku tertarik ke dalam. Kurasakan vaginaku mulai basah dan berdenyut denyut. Tidak kusangka sangka, aku mengalami orgasme kecil ketika sedang mengoral penisnya. Aku melepaskan desahan tertahan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan aku sedang mengalami orgasme. Ditariknya penis itu dari mulutku dan dipukulkannya ke wajahku yang sedang merem melek.

“Perek!” ujarnya menyindirku sambil mengocok penisnya di depan wajahku.

Setelah orgasme ku mulai mereda, kuarahkan wajahku dan tanpa perlu dikomando, aku menjilati buah pelir pak Yanto dan mulai mengulumnya. Kuhisap kuat kuat secara bergantian kedua bola itu sementara pak Yanto semakin cepat mengocok penisnya.

“Buka mulutmu lebar-lebar!”ujarnya sambil mengerang.

Kubuka mulutku dan pak Yanto segera memasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku dengan tetap mengocok batangnya lebih cepat. Dengan sedikit mengerang, aku bisa merasakan tubuh pak Yanto yang sedikit mengejang. Kurasakan beberapa kali penis pak Yanto menyemprotkan lahar putih kental ke dalam mulutku. Rasa asin yang mendominasi segera merebak memenuhi setiap tempat mulutku. Kuatupkan kedua bibirku menutup kepala penisnya yang sedang ejakulasi. Tak kuduga duga, secara tiba tiba aku diserang gelombang orgasme lagi yang lebih besar. Aku mengerang dan mengejang secara tertahan.

Ditariknya secara perlahan penis itu sampai terlepas dari katupan bibirku. Kurasakan sperma itu berkumpul di dalam mulutku. Sangat kental, asin dan ada rasa gurih.

“Buka mulutmu, awas jangan ada yang tumpah!” katanya sambil menyorotkan kameranya ke mulutku.

Kubuka mulutku dan kutunjukkan sperma yang bercampur ludahku. Jari pak Yanto segera masuk ke dalam mulutku dan mengobok obok mulutku yang terbuka lebar. Kemudian ditariknya jari itu dan dioleskannya lendir yang menempel di jarinya ke wajahku sampai bersih.

“Telan!”

Tanpa perasaan tertekan kutelan sperma pak Yanto yang terasa lengket di tenggorokanku sambil menutup mataku. Karena lengket sekali, aku bisa merasakan sperma itu sudah masuk seluruhnya setelah beberapa kali aku menelan ludah.

“Peju saya enak kan?” katanya sambil tersenyum.

“Enak Tuan” jawabku sambil mengelap mulutku dengan tanganku.

“Terima kasihnya mana?” sindirnya.

“Terima kasih Tuan untuk pejunya” kataku meskipun aku merinding mendengarnya.

“Bagus, itu baru namanya perek pinter” katanya lagi sambil mengelus kepalaku.

“Kamu cium suamimu pake mulut itu?” katanya tiba tiba “Mulai sekarang mulut kami itu punya fungsi lain. Tau fungsinya apa?”

“I-iya Tuan, saya tau” kataku.

“Apa?!?! Perek” bentaknya.

“Mu-mulut saya ini untuk, untuk menghisap kontol” kataku tak percaya dengan ucapanku.

“Bukan kontol suami kamu kan?” tanyanya menghinaku.

“Bukan kontol suami saya Tuan” kataku lagi.

“Bagus!!! Sekarang siap kan merasakan kontol saya di memekmu?” kembali dia bertanya sambil mengelus pipiku.

Masih belom puaskah orang ini? Tanyaku dalam hati. Kulihat penisnya masih berdiri tegak setelah menumpahkan lahar yang begitu banyak. Rasa kagumku semakin bertambah. Ditaruhnya handy cam itu dan kemudian diangkatnya tubuhku dan ditidurkannya aku di sofa. Dibuka lebar kedua kakiku dan diposisikannya kepala penis itu di antara kedua kakiku. Dipegangnya batang itu dan disapukannya kepalanya ke bibir vaginaku membuatku mendesah.

Dengan sekali hentakan, kepala penis itu telah amblas masuk ke dalam memekku. Kurasakan batang besar itu seperti hendak merobek memekku. Kugigit bibir bawahku menahan sakit, dan pak Yanto dengan pelan mendesak penis itu semakin masuk ke liang surgaku.

“Seret!” ujarnya meracau “Beda sama perek di jalanan. Kontolku serasa dipijat pijat..... Emang bakat jadi perek!”

Hatiku berdesir mendengar aku disamakan dengan penjaja cinta di pinggir jalan. Terbesit rasa malu tapi aku semakin terangsang mendengar pelecehan itu.

“Oohh pak, pelan pelan pak, punya bapak besar banget” kataku memohon.

Tanpa menghiraukanku, pak Yanto segera mendorong seluruh batang itu hingga tenggelam ke dalam memekku. Mataku mendelik kaget saat rasa sakit menerjang tubuhku.

“Paaaak ampun, pak!!!” teriakku.

Dicabutnya penis itu sampai terlepas dari vaginaku. Nafasku mulai tersenggal , tapi belom sempat aku menarik nafas lagi, dengan keras, pak Yanto segera menghujamkan penisnya ke dalam lubang kenikmatanku lagi.

“Oogghhhhh pak!” kurasakan rasa nikmat bercampur sakit ketika penis itu menghujam memekku untuk kedua kalinya.

Kejadian itu diulanginya beberapa kali sampai kemaluanku menjadi sangat sangat basah. Kemudian, ditancapkannya penis itu dalam dalam dan dibiarkannya di sana.

“Enak kan kontol satpam atau kontol suami kamu?” tanyanya.

“Enakan kontol bapak” jawabku asal dengan mata terpejam.

“Perek pinter.” Sekali lagi dielusnya kepalaku dan sekali lagi kurasakan kebanggaan di diriku.

Digoyangnya pelan batang itu membuatku merem melek sambil mendesah perlahan. Memekku terasa sangat penuh, dan setiap dorongan penis itu membuat bibir vaginaku ikut terdorong masuk. Hal ini belom pernah terjadi saat aku melayani suamiku. Tanpa sadar, kedua tanganku bergerak ke kedua putingku dan memain mainkannya. Kupilin pilin kedua putingku sambil kutarik tarik saat pak Yanto menusuk nusuk pelan liang senggamaku. Desahanku semakin keras ketika pak Yanto secara tiba tiba menggenjotku dengan keras.

“Ohh.....Pak..... entot saya pak....... iya pak..... terus pak entot saya” racauku.

“Memekmu sempit. Jarang dipake ya sama suami?” tanyanya.

“Kon-Kontol bapak besarrrr........” jawabku.

Ditepisnya kedua tanganku dan diraihnya kedua putingku dengan jemari jemarinya. Dipencetnya putingku keras keras sambil dipilinnya dan ditarik tarik.

“Oohhh pakk...... Terus pak masukin kontol bapak ke memek saya pak!!” kataku sambil tanganku menyodorkan kedua payudaraku ke atas seakan akan mengijinkan pak Yanto berbuat apapun terhadap keduanya.

Ketika aku sudah berada di ujung kenikmatan sekali lagi, tanganku membuka kakiku lebih lebar dan menahannya terbuka. Tapi pak Yanto yang melihatnya malah hanya tersenyum lebar dan menghentikan tusukannya. Aku yang sudah gelap mata segera memaju mundurkan pinggulku mencari sela sela kenikmatan.

“Katanya tadi ga mau selingkuh?” pertanyaan nya mengejekku “Udah ke enakan malah goyang sendiri”

“Kontol bapak enak” kataku. Meskipun diejek seperti itu, aku tidak menghentikan gerakan memaju mundurkan pinggulku. Aku benar benar sudah gelap mata.

“Dasar lu perek murahan!!!” umpatnya.

“Iya pak...... Ooohhhhhh.......... Saya perek murahan...... Saya pelacur...... Entot memek saya sekarang pak” kataku sudah tidak bisa menahan nafsu.

Ditancapkannya penis itu dalam dalam yang langsung membuatku seperti di awang awang. Kurasakan dinding vaginaku berdenyut denyut memijat penis itu dan cairanku keluar seperti banjir bandang. Dihisapnya puting kananku kuat kuat yang kusambut dengan memeluk kepalanya dan menekannya ke payudaraku. Dihisapnya secara gantian kedua putingku membuatku semakin larut ke dalam orgasmeku.

Ketika orgasmeku mereda, dicabutnya penis itu dan diarahkannya ke mulutku. Kulihat banyak sekali lendirku yang menempel di penis itu membuatnya terlihat berkilau diterpa sinar lampu. Tanpa disuruh oleh pak Yanto, kubuka mulutku dan kuhisap batang yang telah memberiku kenikmatan dan tanpa ragu ragu kusapukan lidahku ke penis itu seakan akan hendak membersihkannya. Pak Yanto mengelus elus lagi kepalaku. Sekali lagi aku merasa sangat bangga, aku tidak mengerti mengapa aku sangat menyukainya jika pak Yanto memujiku.

Dibaliknya tubuhku dan dibukanya kakiku lebar lebar. Bagian atas tubuhku diletakkan di sandaran kursi. Kurasakan penis pak Yanto sudah siap di depan lubang surga ku. Dengan satu hentakan keras, penis itu segera menerobos memekku yang masih basah. Nikmat sekali rasanya ketika ujung penisnya terasa menyentuh rahimku.

“Ohh..... Mantap nih memek” ujarnya pelan.

Dihujam hujamkannya penis itu dengan kasar seolah olah sedang meluapkan amarahnya kepadaku. Aku menikmati setiap hujaman penis itu. Ditariknya segenggam rambutku dengan kasar sambil ditusukkannya penis itu dalam dalam di memekku. Aku mengerang penuh dengan kenikmatan sambil mendorong pantatku ke arah pak Yanto. Dilepaskannya jambakan rambutku dan tiba tiba pak Yanto menampar kedua pantatku dengan keras secara bergantian. Kurasakan pantatku memanas akibat tamparan tamparannya. Namun itu membuat libidoku semakin meningi. Kulepaskan jeritan manja setiap kali telapak tangannya mendarat di pantatku.

Setelah puas menampar pantatku, dijambaknya rambutku ke belakang dengan keras sampai tubuhku terangkat dari kursi sementara penisnya masih terbenam di memekku. Kedua tanganku memegang kedua payudaraku dan memain mainkan putingku. Aku benar benar sudah berubah menjadi perempuan binal. Aku sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan kuperbuat. Penis hitam pak Yanto yang perkasa sudah mengubah hidupku. Aku tau aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kepuasan ini.

Mulut pak Yanto mendekat ke telingaku, dijilatinya daerah belakang telingaku dan diciuminya leherku. Aku semakin menjadi, kuturunkan tangan kananku dan kumainkan clitorisku. Mulutku menganga lebar.

“Mau kan melayani bapak kapan saja bapak mau?”bisiknya di telingaku.

“Mau pak...... Entot saya kapan pun bapak mau” kataku setengah berteriak.

Tanpa kata kata, ditariknya penis itu dan dihujam hujamkannya lagi ke liang senggamaku. Semakin lama semakin cepat, semakin kasar. Kursiku bergoyang goyang menandakan tidak kuat menahan beban tubuh kami berdua. Tiba tiba dengan kasarnya diremasnya kedua payudaraku dan kurasakan sperma pak Yanto yang terasa hangat menyembur dengan derasnya di dalam vaginaku. Ketika semburan itu belom berhenti, dinding vaginaku berdenyut dengan kencang menandakan aku kembali dilanda orgasme untuk yang kesekian kali pada malam hari ini.

“Ohhhhhhh......hohhhhhh......... DASAR PEREK” teriaknya kencang sambil meremas payudaraku dengan keras.

“IYA PAK!!! SAYA PEREK!!! KONTOL BAPAK ENAK!!!!” balasku tidak mau kalah.

Tubuh kami mengejang bersamaan. Kurasakan keringatku sudah mengalir seperti sungai sedangkan tubuh pak Yanto yang juga bermandikan peluh bergetar merasakan orgasme nya. Dilepaskannya jambakan rambutku membuat tubuhku langsung rebah ke sandaran kursi. Kurasakan tubuhku sudah sangat lemas dan nafasku memburu. Kurasakan pak Yanto menarik lepas penisnya dari vaginaku dan berjalan memutar menghampiri kepalaku. Disodorkannya penis itu ke wajahku, dan tanpa disuruh lagi, segera kubuka mulutku dan kunikmati mengulum penis itu. Kubersihkan penis itu dari lendir lendir yang menempel. Kujilati setiap centi penis itu dan tidak lupa kukecup kepala penis itu sebagai ucapan terima kasihku. Pak Yanto yang melihat itu pun tersenyum kegirangan. Ditepuk tepukannya telapak tangannya ke kepalaku dan dielusnya kepalaku”

“Ga nyesal kan jadi budak bapak” tanyanya ketika aku mengecup penisnya.

Aku hanya menggelengkan kepala dengan lemas. Tak kusangka, libidoku terpuaskan oleh penis satpamku. Kurasakan ada cairan mulai mengalir turun ke paha dalamku. Dengan perasaan malas, aku segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang segera diikuti oleh pak Yanto. Di dalam kamar mandi, aku segera berjongkok di toilet dan kulihat sperma itu menetes turun. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat pak Yanto yang tersenyum kepadaku. Kubalas senyuman itu dan kuangkat tubuhku berdiri di samping pak Yanto. Digandengnya tanganku menuju ke shower yang segera kunyalakan. Layaknya seorang istri, aku segera membantu pak Yanto untuk mandi. Seperti seorang pelacur, kutuangkan sabun ke dadaku dan kemudian kugerakkan payudaraku ke seluruh tubuh pak Yanto. Kusabuni dadanya yang tegap dan terus turun ke kemaluannya yang menggantung. Kuhimpit penis itu dengan payudaraku dan mengurutnya pelan, dan tidak lupa kuberi perhatian ke kedua buah pelirnya yang menggantung dengan bebas dengan tanganku. Payudaraku kugerakkan turun ke arah kedua pahanya. Akhirnya aku berjongkok di hadapannya dan kugerakkan payudaraku naik turun untuk memberikan sabun ke kedua kakinya. Tidak lupa kuberi perhatian kepada punggung dan tangannya. Aku heran dengan tingkahku sendiri, aku bahkan tanpa rasa jijik memasukkan tanganku ke antara pantatnya untuk membersihkan tempat itu. Dipilinnya kedua puting payudaraku setelah badan kami penuh dengan busa. Aku hanya tersenyum ketika pak Yanto melakukan itu. Ditariknya tubuhku ke bawah pancuran air dan segera membasuh tubuh kami.

Setelah seluruh busa pada tubuh kami hilang, kuputar kran air ke posisi off. Kuambil handuk yang biasanya kupakai, dan kukeringkan tubuh pak Yanto dulu dan kemudian tubuhku. Dituntunnya aku keluar kamar mandi setelah kuletakkan handuk kembali ke tempatnya. Pak Yanto melemparkan pakaiannya ke arahku dan kemudian duduk di sofa. Kupakaikan baju pak Yanto, dan sebelom aku sempat memakaikan celananya, telepon rumahku berbunyi.

“Kringggg” pak Yanto segera menyuruhku mengangkat telpon itu yang dengan langsung kurespon.

“Halo” kataku.

“Halo, belom tidur say” tanya suamiku.

“Oh, belom ko” kataku senormal mungkin.

“Ya udah jangan tidur malem malem, apalagi tiap pagi kamu jogging. Kecapekan malah sakit” ujarnya penuh perhatian.

“Oh iya ko, kapan pulang?” tanyaku dengan perasaan bersalah.

“Paling cepat sih 1 minggu kayaknya” ujarnya lagi.

“Kok lama?” kataku sudah tidak bisa konsentrasi karena air mataku mulai merembes ke pipiku.

“Iya nih banyak kerjaannya. Rumah gimana? Aman kan dijaga pak Yanto?” pertanyaanya membuat nafasku sesak.

“A-Aman kok ko” kataku singkat.

“Kalo butuh apa aja, minta bantuan pak Yanto aja, ga perlu malu” katanya membuatku seperti tertohok.

“Iya ko” kurasakan air mataku masih mengalir di kedua pipiku.

“Ya udah, cepet tidur, biar ga sakit” katanya penuh perhatian.

“Iya ko, Koko juga hati hati di sana” kataku lagi.

“Bye” katanya sambil mengakhiri percakapan.

Kututup gagang telpon itu dan aku langsung menangis sesenggukan dan perasaan bersalah menghantuiku. Aku memandang pak Yanto yang berjalan mendekat kepadaku. Penisnya yang masih lunglai itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Diusapnya air mataku yang menetes di kedua pipiku dan aku hanya diam saja.

“Sudahlah bu, ga usah ngerasa bersalah” katanya membela diri “Saya yakin pak Jonny juga pasti main cewek di luaran.”

“Maksud bapak suami saya selingkuh?” tanyaku tidak percaya.

“Ya namanya juga lelaki bu” ucapnya enteng.

“Tidak mungkin pak. Suami saya tidak mungkin selingkuh” kataku berapi api.

“Kalo sampai suami ibu selingkuh di belakang ibu gimana?” tantangnya.

“Bapak jangan menuduh suami saya sembarangan ya!!” ucapku sambil marah.

“Apa ibu menuduh saya berbohong?” tanyanya dengan nada mengancam “Jika saya bisa buktikan pak Jonny selingkuh di belakang ibu, ibu bisa kasih saya apa?”

“Tidak mungkin pak” kataku masih bertahan.

“Apa ibu marah jika suami ibu selingkuh?”

“Iya pak tapi suami saya tidak akan selingkuh” kataku masih ngeyel.

“Tidak mungkin ya bu?” tanyanya sambil mendengus.

Diambilnya handy camnya dan dipencet pencetnya beberapa tombol. Kemudian dengan senyum menungging, pak Yanto menunjukkan foto suamiku sedang menggandeng seorang wanita pribumi dengan dandanan menor berjalan masuk ke sebuah hotel. Bukan cuma satu foto, melainkan ada banyak sekali foto itu dengan beberapa wanita berbeda. Bahkan aku melihat ada seorang wanita yang sedikit lebih tua dariku yang terfoto paling banyak dengan baju berbeda. Sungguh kenyataan yang sangat pahit.

“Ini yang ketauan sama saya bu di dalam kota. Kalo di luar kota ya saya ga tau lagi” katanya.

Aku masih sulit mencerna kenyataan ini. Aku selalu merasa suamiku orang yang sangat setia kepadaku. Tapi aku tidak menyangka sudah begitu banyak wanita yang ditidurinya. Amarahku mencapai ubun ubun. Ingin sekali aku memukulnya ketika dia pulang, tapi aku lebih ingin membalasnya. Hatiku benar benar sakit dikhianatinya.

“Pak, tolong rekam saya” kataku kepada pak Yanto yang sedikit kebingungan dengan maksudku.

Dinyalakannya handy cam itu dan disorotnya ke wajahku. Kuingat ingat lagi tentang perselingkuhan suamiku dengan begitu banyak wanita membuat aku semakin berani.

“Halo, saya Diane Wong. Suami saya, Jonny, tidak bisa memuaskan birahi sex saya karena kontolnya terlalu kecil. Jadi saya minta tolong kepada satpam saya yang mempunyai kontol jauh lebih besar dari miliknya. Enak sekali kontolnya. Jauh lebih enak dari kontol suami saya. Saya merekam video ini hanya untuk bukti bahwa mulai hari ini, saya akan menjadi budak satpam saya, pak Yanto, tanpa paksaan dari siapapun. Saya akan menuruti semua perintahnya, dan akan selalu memberinya prioritas lebih dulu dari suami saya. Saya akan memberikan tubuh saya untuk memberikan kepuasan kepada majikan saya. Saya menyerahkan seluruhnya tubuh ini untuk digunakan pemilik saya sebagai apapun yang dianggapnya benar. Dan saya akan dengan senang hati belajar untuk menjadi seorang budak yang baik.” Aku mengucapkan itu dengan senyuman nakal dan kerlingan mata. Tidak ketinggalan kumainkan lidahku ke kiri dan ke kanan untuk memberikan suatu kesan nakal. Tidak lupa di akhir video, kuperlihatkan aku sedang mengecup kepala penis pak Yanto dan mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang diberikannya.

“Bagus banget!!!” kata pak Yanto sambil mengacungkan jempol.

“Sudah siap menjadi budak saya?” tanyanya.

“Sudah Tuan” kataku sambil tersenyum.

“Ayo naik ke kamar ibu dan saya akan memilihkan baju yang cocok buat makan malam kita bu” katanya sambil tersenyum mesum.

“Baik Tuan” kataku sambil tersenyum manis dan tanpa malu malu menggandeng tangannya dan menariknya menaiki tangga menuju kamar tidurku.

Friday, December 29, 2017

Desahan Enak





Cerita Dewasa - Kisahku bersama Alisa yang terus berlanjut dengan mesrah, aku juga mampu mengimbangi kegiatanku bersamanya juga dengan bersama teman-teman.

Suatu hari aku mencoba untuk pergi main ketempat Alisa.

“Tin tong”, “Alisa? Ini Toni”,
“Eh sayang, tumben kamu main kerumah, yeee”, ia langsung memelukku dan mencium pipiku,
“kan kamu udah sering main kerumah, sekarang aku yang main kerumahmu dong, hehehehe”,
“Makasih kamu udah mau kesini yach, tapi aku habis ini mau keluar sama keluarga, ada saudaraku yang punya hajat”,
“Ooh, ya udah aku pulang aja ya yang”,
“jangan pulang dulu dong, kamu disini aja, kakak ku gak ikut kok, kamu tunggu sini sama kakak yach”. Lalu terlihat orang tuanya keluar, aku sempat bersalaman dan mereka mengajak Alisa berangkat pergi.
“Kamu tunggu dirumah ya, aku segera kembali”,
“Iya, hati-hati yaa”. Kemudian mereka berangkat dengan mobil mewah milik ayahnya.

Aduh aku bingung, masak aku harus menunggu disini dengan kakaknya? Huff.

Saat aku masuk, aku kaget, ternyata kakaknya Alisa itu mahasiswi cantik! Wah, bahaya nih.

“Eh, kamu pasti pacarnya si Alisa, kenalin aku Alika, kakaknya”,
“mmm… i…iya, aku Toni”,
“Masuk aja, anggap saja rumah sendiri”. Lalu aku masuk kedalam, baru kusadari ternyata kakaknya ini sangat cantik, ia memakai rok mini dan tenktop ketat,tentu saja bentuk buah dadanya sangat jelas terpampang kemontokannya.

Sambil malu malu aku masuk dan duduk dikarpet sambil nonton tv.

“Ton, ini ada minuman, diminum ya”,
“i…iya kak”. Lalu masuk kekamarnya dan kembali dengan membawa buku.

Ia kini berpindah kesebelahku. Kak Alika lalu tiduran sambil membaca buku, ia bersandar pada bantal. Aku yang sedikit dibelakangnya bisa melihat lubang diantara buah dadanya, tenggorokanku mulai kering.

Beberapa menit kemudian telpon rumah Alisa berbunyi, Kak Alika pun mengangkatnya.

“Halo? Ada apa Alisa? Apa? Gak pulang sekarang? Mmm, oke oke, iya aku kasih tau dia kok, atii ati disana yach”. Wah sepertinya Alisa gak bisa pulang sekarang, sekarang adikku dibawah ini tiba tiba berontak.
“Ton, Si Alisa kayaknya gak bisa pulang hari ini, saudaraku butuh bantuan lebih buat besok juga kayaknya”, “ooh, ya udah, saya pulang saja kak ya…”,
“Jangan dong ton, temenin kakak yach, aku takut sendirian” sambil meringik dan melompat membuat buah dadanya hampir keluar.
“Ya udah kak”, “ gini aja, kita nonton film yuk, kakak ada film bagus nih”,
“iya deh kak”.

Lalu Kak Alika menyalakan vcd dan mulai memutar film. Ternyata film yang diputar ini film hantu Indonesia yang agak berbau seks, karena ada adegan berciuman, dan beberapa adegan menjurus kehubungan intim. Kak Alika sekarang naik duduk disofa dibelakang ku. Saat aku menoleh ia seperti bengong melihat film itu, tapi aku kaget saat ternyata rok mininya terbuka, kini aku bisa melihat celana dalam pink miliknya.

Aku langsung kembali menghadap tv.

“Duh ton, aneh deh film ini, masak yang cewek itu suka banget ngajakin cowok cowok kekamar, mau ngapain cobak?”,
 “ya itu kan ada adegan ciuman kak, mungkin mereka berhubungan seks didalam kamar”,
“masak sih? Hmm”. Kini kak Alika pindah lagi kesebelah kiriku.

Pas adegan ada hantu yang muncul tiba-tiba, kak Alika kaget.

“Kyaaaa”, Tiba-tiba ia merangkul ku, kurasakan buah dadanya menempel bahuku, waw sungguh kenyal.
“Eh maaf ya ton, aku kaget tadi”,
“iya, gapapa kok kak”. Tiba pada saat cewek yang ada difilm itu tiduran, dan ada laki-laki yang berada diatasnya,

 kemudian kamera berpindah kebawah dan hanya menampilkan ranjang yang bergoyang beserta suara desahan.

“kok gini sih ton? Mereka ngapain sich? Kok kameranya dipindah, huch”,
“Ya kan mereka berhubungan seks kak, ya gak boleh direkam dong”,
“yach aku jadi gak tau dech”,
“masak kakak gak tau? Toni aja tau apa yang mereka lakukan”,
“Gak tau ton asli, emang apa yang mereka lakukan?”, Lagi lagi aku bertemu perempuan polos yang siap dinikmati tubuhnya.
“Gimana kalo toni praktekin aja kak? Tapi sama kakak ya”,
“iya deh ton yuk kita kekamar. Dan tv pun dimatikan kini aku sudah siap beraksi.
“Kak coba tiduran disitu”, “terus ngapain ton?”,
“Biar toni yang lanjutin”. Lalu aku mencium bibir sexy kak Alika, lalu ku cium I leher, bahu sampai hampir menuju buah dadanya, juga ku elus elus paha mulus miliknya.
“ ih ton geli dech, hihihi”,
“ini masih awal kak, kakak belum tau kan kenapa ranjang difilm tadi bergoyang?”,
“iya ton, terusin yach”,
“kakak semua pakaian aja deh, biar cepet tau”. Kemudian ia melepas tanktop dan rok mininya.

Terlihatlah tubuh indah miliknya, kulihat tubuhnya yang putih mulus terawat tanpa bulu ini siap untuk disantap.
Langsung aku naik keatas nya kini kumulai meremas kedua buah dada bundar milik kak Alika, padat dan kenyal sekali,

“uuh, ton, kok kakak merasa seperti ada yang enak ya? Tapi gak tau, geli campur-campur”,
“Nah itu nikmatnya adegan ini mbak”,
“Ini dibawah kok ada yang nabrak nabrak selangkangan kakak, ada apa dicelanamu?”,
“nah, itu yang bikin ranjang bergoyang dan juga kakak nanti akan mendesah”,
“Coba kamu tunjukin ton”. Aku lalu melepas pakaian, dan naik lagi diatas kak Alika.

Penisku kini menempel di perutnya,

“Itu apa yang kayak timun ton? Gede nya”,
“itu batang kenikmatan namanya kak”,
“Kalo waktu pelajaran biologi namanya penis itu ya?”,
“iya, udah kakak diem dulu biar toni terusin”. Aku lanjut meremas buah dada kak Alika, kujilat dan kugigit pelan putingnya yang lucu itu, sambil sesekali ku cium bibirnya.

Ternyata air kejantananku sudah membasahi perut kak Alika yang sexy itu.

“mmmfff, enak banget ton, uuuuuh”.Kuteruskan memutar dan menjilati buah dada kak Alika seperti Ice cream yang lezat, tapi ini lebih nikmat dari ice cream karena tidak bisa habis ku jilat dan kuremas.
“Ton, aku mau kencing, uuuuuuuh!” ternyata kak Alika sudah klimaks,
“nah, ini saatnya menggoyang ranjangnya”,
“mmmmf, ayuk ton, kakak suka banget dech, uuuuugh”. Lalu aku berfikir lebih baik tak ku usik vagina perawan kak Alika, aku turun dan hanya menjilati vaginanya saja, ia mulai menggelinjang.

Aku memilih menikmati lubang pantatnya. Kuangkat kedua kaki kak Alika, lalu kubersiap memasukkan penisku kedalam lubang diantara pantat indah kak Alika,

“Siap ya kak, biar nikmat kakak remas aja buah dada kakak itu". Kini penisku mulai memasuki lubang anus itu perlahan, lalu blesss, masuk perlahan, kemudian mulai kugesek perlahan,
” tooon, uuuuuh timun kamu tuh….aaaagfff”,
“nikmatkan kak, aku gesek lagi aja biar lebih nikmat”. Aku mulai mempercepat gerakan maju mundurku didalam lubang pantat Kak alike, sambil ku remas buah dadanya yang kanan, Kak Alika meremas buah dada kirinya sendiri.

Kini ranjang ini mulai bergoyang. Adegan seks film itu sudah berhasil ku praktekan bersama kak Alika yang mendesah terus diatas ranjang yang bergoyang ini.

”ennggghh, uuuffh,toni… eih eih,mmmmf, aaahhnn” terdengar suara desahanya diantara suara ranjang yang berdecit dan suara hentakan penisku kedalam lubang pantat Kak Alika.

Terus kuhajar saja lubang itu sampai puas.

Beberapa saat kemudian aku berhenti menikmati lubang pantat kak Alika.

“ kak, duduk situ ya, coba mulutnya dibuka, coba dinikmati timunnya toni ini”. Ia pun membuka mulutnya, langsung kumasukan penisku kemulutnya, kugesek maju mundur sambil kupegangi kepalanya.

Beberapa menit kemudian, croooot crooot, air maniku keluar didalam mulut kak Alika.

” Uhug uhug, uuff, timunmu keluar airnya ton”,
“telan aja kak, enak loh”, kemudian kak Alika menelan semua spermaku.

 Lalu kami kelelahan dan tidur bersama diatas ranjang itu.

Malamnya aku bersiap pulang,

“Ton, lain kali kita main adegan tadi yach, seru dan nikmat”,
“iya kak, dirumahku juga bisa kok”,
“hehe, terima kasih ya ton, udah nemenin kakak, hati hati dijalan yach”. Kemudian aku pergi pulang.

Sampai dirumah aku langsung tidur lagi, meski kudengar ayahku sedang menyetubuhi kak Santi dikamar sebelah. Beberapa hari kemudian kak Alika main kerumah, ia bercerita bahwa ia sekarang punya pacar yang sering ia ajak bersetubuh.

Pernah Kak Alika bersama Alisa kerumah dan menikmati penisku bersama, juga pernah kak Alika kunikmati bersama ayahku. Kak Alika senang sekali bisa menikmati 2 timun milik laki-laki yang menikmati lubang dalam dirinya. Oh nikmatnya hidupku Sekarang ini.

Thursday, December 28, 2017

Desahan Enak






Cerita Dewasa - Sebut saja nama saya Ari. Sudah menikah dan punya 1 orang anak. Saya tinggal diwilayah yang masuk sebagai wilayah Bogor tapi saya bekerja di Jakarta. Sebelum saya menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami, saya minta maaf kalau cara saya bercerita tidak begitu bagus karena saya memang bukan penulis.

Awalnya adalah ketika saya kuliah di Bandung dan jauh dari orangtua. Karena jauh dari ortu maka saya berpikir inilah kesempatan bagi saya untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru terutama tentu saja soal seks. Dari info2 yang saya terima dari teman-teman yang berpengalaman, saya tau banyak hal-hal yang berkaitan dengan seks. Penyewaan LD porno ( waktu itu belum jaman VCD hehehe ), majalah, stensilan, tempat perempuan yang bisa diajak gituan, tempat jual obat kuat, obat tidur, alat kontrasepsi ( kalo ini mah dimana2 juga banyak ). Kalo soal gaya dan posisi2 seks itu sih belajarnya dari film. Saya sendiri masih perjaka saat itu dan sudah sangat ingin melepaskan keperjakaan saya ( hehehe… ). Sayangnya setelah kuliah 1 semester, saya belum dapat pacar juga. Maklum kampus saya adalah kampus teknik ternama yang 90% isinya cowok jadi ya persaingannya ketat. Saya sendiri bukan termasuk cowok yang beruntung alias gak kebagian cewek sekampus bahkan ya itu tadi tidak punya pacar. Padahal saya udah dapat banyak “ilmu” dari teman-teman saya terutama dari Rashid, teman kosku yang sudah ambil tugas akhir. Dia kuliahnya beda jurusan tapi masih sekampus. Saya bahkan sudah diajari olehnya bagaimana cara bisa berhubungan seks dengan pacar kita tanpa memaksanya meski awalnya dia tidak mau. Ajaran itu tidak ajaib-ajaib amat karena modalnya cuma obat tidur atau obat perangsang tergantung situasinya. Trik yang berbahaya memang tapi kagak bisa juga dipraktekin juga ( karena kejombloanku itu ). Namun akhirnya berkat trik itu, aku memang bisa melepaskan kerperjakaanku tapi rupanya trik itu menjadi senjata makan tuan. Berkat trik dari Rashid itu aku berhasil menyetubuhi Rani, pacar Rashid sendiri, dan sampai kini Rashid tidak mengetahuinya. Itupun bukan aku yang melakukan trik tersebut tapi Kamil, anak kost satu lagi teman kita berdua, dan aku cuma kecipratan “getah” enaknya saja.

Ceritanya Rashid itu doyan gonta-ganti pacar dan sepertinya setiap pacarnya pasti pernah dia setubuhi. Di tahun terakhir kuliahnya dia punya pacar serius, namanya Rani. Dibilang serius karena kata Rashid dengan Rani inilah dia ingin menikah. Di mata Rashid, Rani adalah cewek yang sempurna. Kalau dari segi fisik, Rani memang seksi, cantik, putih dan montok. Payudaranya lumayan menantang dengan pinggul dan perut yang ramping. Rambut panjang dengan wajah yang menawan. Rani sering berkunjung ke kamar kost Rashid. Entah datang sendiri atau datang bersama Rashid. Mungkin Rashid meenjemputnya terlebih dahulu karena Rani kuliah di universitas yang berbeda. Rasanya setiap kali Rani datang berkunjung, mereka selalu “main” dalam kamar Rashid. Itu ditandai dari suara rintihan Rani yang sering terdengar ketika sedang disetubuhi oleh Rashid. Meski setiap kamar kost di rumah itu cukup besar tapi tetap saja ada suara yang terdengar ketika mereka sedang bersetubuh. Malah terkadang ada suara jeritan dari Rani ketika dia mencapai puncak kenikmatannya. Biasanya setelah itu kegaduhan mereka berakhir dan itu artinya mereka telah selesai atau telah tertidur. Tapi jika Rashid hasratnya sedang menggebu-gebu maka dia akan menyetubuhi Rani terus menerus seperti kuda liar sepanjang siang atau sepanjang malam tergantung waktu kedatangan Rani. Ini ditandai dengan suara rintihan Rani yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus dari arah kamar Rashid. Tidak jarang Rani sampai bermalam di kamar Rashid meski tidak pernah sampai berhari-hari. Demikianlah, Rashid si raja sesat, begitu kami menyebutnya dan kegiatan birahinya dengan Rani. Kami dua anak kost yang lain hanya bisa maklum dan mencemburui “keberuntungan” Rashid. Oh ya di rumah itu hanya ada 3 kamar kost yang diisi oleh Rashid, Kamil dan aku. Kamil juga sudah punya pacar tapi pacarnya itu sangat alim sehingga menolak melakukan hal-hal yang “aneh-aneh”. Tapi Kamil juga sudah tidak perjaka. Dia melakukan seks pertama kali sejak SMA dan di tahun-tahun awal kuliah pun dia punya pacar di kota asalnya Jakarta dimana mereka selalu bercinta setiap kali bertemu. Hubungan mereka akhirnya kandas setelah pacarnya itu selingkuh dan punya cowok lain. Kamil juga berasal dari kampus yang sama dengan kami dan dia setahun belakangan masuk kuliahnya dari Rashid. Jadi mereka berdua adalah seniorku meski dua-duanya beda jurusan dari aku. Baik Rashid, Rani dan Kamil ketiganya berasal dari Jakarta.

Hari itu Rashid mengerjakan tugasnya di kampus sampai malam sedang aku dan Kamil asik mengobrol saja di depan kamar masing-masing. Pukul 8 malam, Rani datang dan menyapa kami. Kamil mengatakan bahwa Rashid masih di kampus dan kemungkinan akan pulang tengah malam. Mendengar itu Rani mengatakan akan menunggu di kamar Rashid saja. Mungkin Rashid belum memberitahunya sehingga Rani datang “terlalu cepat”. Jaman itu komunikasi belum selancar sekarang karena belum jamannya HP maupun pager. Rani pun masuk ke dalam kamar Rashid dan menunggu pacarnya itu pulang. Rani memang punya kunci cadangan Rashid sehingga leluasa keluar-masuk kamarnya. Dan itu sering dilakukannya apalagi saat-saat itu ketika Rashid sibuk mengerjakan proyek tugas akhirnya di kampus. Hal ini sebenarnya tidak dibolehkan oleh ibu kost kami tapi ibu kost kami tidak mengetahuinya. Ibu kost sebenarnya melarang kami membawa tamu perempuan tapi dia tidak pernah mengontrol kegiatan kami di kamar masing-masing. Ketiga kamar kost kami ada diatas dan memiliki pintu belakang yang tidak bisa dilihat dari arah rumah utama dimana keluarga ibu kost tinggal.

Sejam kemudian, pukul 9 malam, aku dan Kamil masuk kamar masing-masing dan melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Sekitar pukul 10 malam aku turun kebawah maksudnya ingin mengambil air panas untuk membuat susu. Ketika aku di dapur aku mendengar ibu dan bapak kost sedang ada tamu. Aku bisa mendengar percakapan mereka. Dari pembicaraan yang kudengar sepertinya tamu tersebut adalah bapak dan ibunya Rashid. Wah gimana ini, pikirku. Mereka pasti akan naik ke kamar Rashid dan kalau sampai memergoki Rani didalamnya, bisa gawat urusannya. Aku tidak jadi mengambil air panas dan segera keatas dan berpikir untuk memberitahu Kamil. Biar dia yang memberitahu Rani karena dia lebih senior dari aku dan dia yang lebih mengenal Rashid serta Rani. Aku mengetuk kamar Kamil dan begitu dia membuka pintu aku segera memberitahu situasinya. Dia berpikir sebentar. Kemudian dia bukannya keluar untuk memberitahu Rani, malah masuk kembali ke kamarnya. “Tunggu sebentar”, katanya. “Wah, gimana sih, kok malah masuk lagi”, kataku. “Sebentar Ri”, katanya lagi dari dalam kamarnya. Rasanya agak lama juga aku menunggu sampai akhirnya dia keluar sambil nyengir. “Ngapain bos?”, tanyaku. “Ah enggak ga apa-apa”, jawabnya. Kita ke kamar Rashid lalu Kamil pun mengetuknya. Tidak langsung dibuka sehingga Kamil harus mengetuknya lagi. Sementara itu di ujung bawah tangga sudah terdengar suara percakapan. Dari suaranya, aku segera tahu bahwa itu adalah suara bapak-ibunya Rashid dan bapak kost kami. Gawat, ini benar-benar gawat. Aku dan Kamil saling berpandang-pandangan dengan panik. “Ri, do something, lo kesana cegat mereka!”, kata Kamil. “Trus ngapain?”, tanyaku kebingungan. “Ngapain kek, ajak ngobrol kek, yang penting mereka jangan naik dulu. Udah kesono cepetan”, perintahnya. Maka akupun berlari turun berpura-pura mau mengambil air panas dan dibawah diujung tangga aku bertemu mereka. Aku memang berhasil menahan mereka beberapa saat. Aku beritahu bahwa Rashid masih di kampus mengerjakan tugas sehingga bapak kost terpaksa balik ke depan untuk mengambil kunci cadangan. Sambil menunggu bapak kost, aku bercerita bahwa Rashid sedang sibuk karena tugas akhir yang dikerjakannya. Setelah bapak kost kembali dengan kunci cadangan, aku tidak bisa menahan mereka lebih lama karena mereka memang ingin segera naik. Aku juga tidak ingin menimbulkan kecurigaan dengan menghalang-halangi mereka naik.

Di bawah segera setelah aku mengisi termos kecilku akupun naik kembali ke atas. Di atas aku lihat bapak kost baru saja membuka pintu kamar Rashid dan menyilahkan kedua orang tua Rashid untuk masuk. “Hufff….sukurlah”, pikirku, “situasinya sudah terselamatkan. Hampir saja”. “Eh tapi kemana mba Rani ya?”. Tidak mungkin dia keluar lewat pintu belakang karena aku tidak mendengar suara pintu belakang dibuka. Apalagi pintu belakang sudah digrendel. Setiap jam 9 malam, pintu belakang pasti di grendel sama orang rumah. Disamping itu dari arah ujung tangga bawah siapapun yang keluar masuk lewat pintu belakang pasti akan terlihat oleh orang tua Rashid dan bapak kost. Jadi kemana mba Rani ya?.

Pintu kamar Rashid telah ditutup dan aku mendengar suara orangtua Rashid yang entah mengomentari apa dalam kamar anak mereka. Aku juga tidak melihat Kamil. Apa mba Rani ngumpet di kamar Kamil? Yah pasti begitu, pikirku. Cuma itu kemungkinan yang paling baik dan paling masuk akal. Begitulah analisaku. Aku segera menemukan jawabannya karena Kamil keluar dari kamarnya menemuiku yang masih sibuk mengamati keadaan. Dia merangkulku dan membawaku agak menjauh. Dia berbicara padaku dengan suara pelan nyaris berbisik.

“Ri, lo jangan bilang Rashid ya kalo Rani kesini malam ini?”, katanya.
“Loh, kenapa?”, tanyaku heran.
“Pokoknya jangan deh”, katanya lagi tersenyum nakal.
“Iya tapi kenapa? Emangnya ada apa?”, tanyaku lagi masih tidak mengerti.
“Gini aja deh. Lo jangan bilang Rashid dan gue janji 1 atau 2 jam lagi lo akan dapat kejutan istimewa”.
“Kejutan apaan sih? Gak ngerti ah!”, kataku lagi. Dalam hati rasanya aku mulai mengerti akan rencana “busuk” Kamil tapi aku masih belum yakin. Apakah dia akan…..? Ah tidak, tidak mungkin. Kamil dan Rashid berteman baik, tidak mungkin Kamil sampai tega melakukannya. Tapi kalau soal urusan nafsu, siapa yang tahu. Ah sudahlah aku ikuti saja kemauan Kamil dan menunggu perkembangannya.

Kami berdua masuk kamar dan sebelum masuk kamar Kamil mengedipkan matanya padaku. Aku menunggu dengan berdebar-debar dalam kamar. Apakah mereka akan melakukannya? Apakah Rani mau mengkhianati Rashid? Semudah itu? Dan bagaimana caranya? Lalu setelah mereka selesai maka benarkah setelah itu giliranku agar aku tutup mulut. Begitukah? Wah…kalau benar begitu maka inilah malam dimana aku kehilangan keperjakaanku. Bagaimana kalau sampai Rashid tahu? Pikiran-pikiran itu memenuhi otakku sambil menunggu dengan harap-harap horny. Hehehehe…

Tidak sampai 1 jam rasanya aku mendengar suara-suara “aneh” dari kamar Kamil. Suaranya seperti suara rintihan yang teredam. Aku mendengar terus dengan seksama. Yak, aku yakin itu suara Rani dan sepertinya Kamil sudah berhasil menyetubuhinya. Aku mengenal dengan baik suara rintihan Rani jika sedang disetubuhi oleh Rashid. Tapi kali ini bukan Rashid yang melakukannya tapi teman baiknya, Kamil. Dan aku terlibat dalam persekongkolan itu. Ada rasa bersalah terhadap Rashid tapi nafsuku lebih menguasaiku. Ini juga sebagai pelajaran bagi Rashid yang suka memamerkan pacarnya sama kami. Lagian kan dia juga yang mengajarkan sama kita bagaimana cara mendapatkan cewek hingga menidurinya. Duh, aku tidak sabar menunggu giliranku. Sudah 15 menit sejak aku mendengar suara rintihan Rani dan sepertinya suara rintihan itu sudah hilang. Apakah mereka sudah selesai? Bagaimana kalau mereka tertidur? Wah…bisa-bisa aku gak “kebagian”.

Karena mendapat pikiran seperti itu, aku segera bangkit dan keluar kamarku. Aku mengetuk kamar Kamil dengan pelan. Tak lama aku dengar suara Kamil dari dalam kamarnya. “Siapa?”, tanyanya pelan. “Gue, Ari”, jawabku juga dengan pelan. Dia membuka pintunya sedikit dan aku lihat wajahnya yang meski agak memerah tapi tersenyum sumringah. “Udah gak sabaran lu ye?”, katanya sambil membuka pintu lebar menyilahkan aku masuk. Ternyata Kamil bertelanjang bulat dan tidak mengenakan apapun di tubuhnya. Badannya penuh keringat dan kontolnya masih basah yang meski sudah agak melemas tapi masih terlihat tegang. Namun yang paling menarik perhatianku adalah pemandangan yang tersaji di atas ranjang Kamil. Seorang mahluk cantik yang sangat seksi bertelanjang bulat dengan tubuh putihnya nan indah penuh dengan keringat yang memantulkan cahaya kamar sehingga memperlihatkan erotisme yang luar biasa. Tubuh indah itu pasti mengundang birahi setiap lelaki normal yang memandangnya.

Rani tersenyum agak malu melihatku. Dia merubah posisinya yang tadinya telentang lalu kemudian melipat kakinya menutup veggynya. Dia juga berusaha menutup payudaranya dengan tangannya. Aku masih terdiam dan melongo. Beberapa kali aku menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhnya. Tingkahku itu mungkin membuat Rani menjadi grogi. “Hey…kenapa bengong? Baru pertama lihat cewek telanjang ya?”, katanya lagi sambil cekikikan. Kamil kemudian mendorongku, “Udah situ…ambil jatah lo, itu adik lo udah bangun tuh”. Kamil dan Rani tertawa menyaksikan tonjolan dalam celana pendekku. Kontolku memang sudah berdiri sejak tadi dan membuat celana pendekku terlihat menonjol. Aku memang tidak mengenakan celana dalam dan hanya mengenakan celana pendek beserta kaos oblong. Kamil kemudian duduk di kursi dalam kamarnya. Akupun duduk di ranjang Kamil tidak tahu harus bagaimana. Rani kemudian bangkit dari tempat tidur. “Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Sperma Kamil banyak banget nih”, katanya. Sewaktu Rani bangkit dan berjalan ke kamar mandi memang dari dalam veggy Rani mengalir turun ke pahanya yang putih mulus itu cairan putih kental. Veggy Rani terlihat agak melebar dengan warna kemerahan. Kamil hanya tertawa kecil saja melihat hasil perbuatannya. Sewaktu Rani di kamar mandi, Kamil memberi tanda acungan jempol padaku. Entah apa maksudnya. “Buka dong baju lo semua”, kata Kamil kemudian. Akupun menelanjangi diriku. Aku tidak perduli lagi disitu ada Kamil. Begitu aku menarik turun celanaku, kontolku melenting keatas. Hal itu dilihat oleh Rani yang sedang melap veggynya. Dia tertawa, “Duh…udah langsung gede gitu ya?”, katanya. Dengan tubuh indahnya yang telanjang, Rani mendekat kearahku. Saking tingginya hasratku, lututku sampai gemetar dan aku seperti menggigil kedinginan.

Rani kemudian mengambil lotion ditasnya dan membalurkannya ke kontolku yang sudah sangat keras. Rasanya nikmat kontolku di gosok dengan tangan lentik Rani yang cantik itu. “Mil…gemukan ini dari punya lo”, ujarnya sambil menatap Kamil. Kamil hanya tersenyum. “Gitu ya?”, jawab Kamil. “Kamu baring deh,” kata Rani kemudian. Akupun baring di ranjang dan Rani kemudian mengambil posisi untuk memasukkan veggynya ke dalam kontolku. Detik detik kehilangan keperjakaanku aku saksikan dengan seksama dan dalam kenikmatan yang senikmat-nikmatnya. Hehehehe….

Pelan-pelan dia menurunkan pantatnya yang montok itu dan veggynya pelan-pelan menelan kontolku yang sudah berdiri dengan kerasnya. Aku melihat bagaimana bibir veggy Rani membuka dan seolah menghisap kontolku masuk ke dalamnya. Expressi Rani juga mengagumkan. Dia menggigit bibir bawahnya dan terlihat mengeden seperti orang sedang buang air besar. Tubuhnya sampai gemetar ketika melewati bagian tergemuk dari kontolku. “Ehhhhgggg….duh gemuk amat sih nih burung”, katanya sambil mendesah. Setelah veggynya menelan habis kontolku, dia berhenti sejenak mengambil nafas.
“Kamu udah gak perjaka sekarang”, katanya menggodaku.
“Iya mba, makasih ya”, jawabku sambil mencium bibirnya.
Dia pun mulai menggoyang pantatnya naik turun. Uuuuuggghhhh….nikmat benarrr.. Jadi ini yang disebut kenikmatan seks. Jauh lebih enak dari masturbasi. Pantesan banyak orang yang ketagihan. Apalagi Rani sangat piawai menggoyang pantatnya. Kadang di maju mundurin. Kadang diputer kaya nguleg sambel. Tentu saja tanpa melupakan gerakan naik turunnya yang erotis itu. Payudaranya ikut berayun mengikuti irama goyangannya. Secara insting, aku pun mencoba menghisap dan merangsangnya di payudaranya. Ternyata Rani sangat suka. Goyangannya kini ditambah dengan erangannya yang sangat merangsang itu. Rintihan Rani yang selama ini aku dengar sayup-sayup saja, kini aku dengar dengan sangat jelas di telingaku.

“Gimana rasanya?”,tanya Rani disela-sela goyangannya.
“Enak mba…enak banget”, jawabku.
“Kalau mau keluar bilang ya sayang”, katanya tersenyum. Uh cantik benar dia. Cantiknya beda dari biasanya. Cantik erotis. Aku sudah tidak perduli lagi dia pacar temanku. Aku juga tidak perduli ada Kamil disitu. Aku melirik sesaat ke arah Kamil. Aku lihat dia menggosok-gosok kontolnya yang sudah membesar lagi.

Mungkin karena belum pengalaman atau karena goyangan Rani yang maut, aku sudah sangat kesulitan menahan muntahan spermaku. Baru 5 menit aku digoyang, aku sudah tidak kuat lagi. “Mba….aku….mau…ke…lu…arr…”. Rani segera menghentikan goyangannya dan mencabut veggynya dari kontolku. Aku agak kecewa juga karena rasa nikmatnya terputus tapi ternyata Rani ingin menelan spermaku. Dia mengocok kontolku dan menadahkan mulutnya dihadapan kontolku. Karena sudah tidak tahan, akupun memuncratkan spermaku. Banyak sekali yang keluar. Rani langsung mewadahi muntahan spermaku itu dengan mulutnya. Dia kemudian menelan sperma sebanyak itu yang ada dimulutnya. Saking banyaknya sampai ada beberapa yang mengalir keluar dari mulutnya.

“Sperma perjaka biar awet muda”, katanya sambil tersenyum. Aku terbaring lemas setelah gelombang kenikmatan akibat muncratnya spermaku tuntas. Rani masih dalam posisi setengah menungging di hadapanku sambil memegangi kontolku yang mulai melemas ketika Kamil bangkit dari kursinya dan mendekati kami. Dia berkata, “Rani, kamu masih belum tuntas kan?”, tanyanya sambil memegangi kontolnya yang ternyata sudah menegang kembali. “Huu..kamu tuh ya”, hanya itu komentar Rani sambil tersenyum melihat kontol Kamil yang menghadap kearahnya. Kamil pun mengambil posisi di belakang Rani dan Rani yang sudah tahu apa yang akan terjadi tetap mempertahankan posisi setengah menunggingnya. Kamil kemudian mengangkat pantat Rani agak tinggi dan menariknya kebelakang dengan agak kasar. “Hey…pelan-pelan dong” ujar Rani setengah protes sambil tertawa. Namun tawa Rani segera berhenti dan berubah menjadi “Owwww….”, ketika Kamil menjebloskan kontolnya ke dalam lubang kenikmatan miliknya.

Kamil pun segera memompa tubuh indah Rani dan merekapun mulai mengayuh kembali kenikmatan ragawi bersama. Aku yang berada di hadapan mereka melihat dengan jelas bagaimana ekspresi keduanya. Rani dengan mulut terbuka, alis agak berkerut dan tubuh yang terayun-ayun mengikuti pompaan Kamil. Mulutnya mengeluarkan rintihan nikmat, “ah…ah…ah….”. Melihat pemandangan seperti itu, akupun jadi terangsang lagi dan kontolku yang tadinya sudah lemas pelan-pelan mulai menegang kembali. Akupun bangkit dan mengangsurkan kontolku ke mulut Rani yang segera disambar oleh si cantik itu. Kini kedua lubang atas bawahnya telah terisi. Dibawah veggynya digenjot oleh kontol Kamil dan diatas mulutnya disumpal oleh kontolku.

Kontolku dikulum dan disedot oleh mulut mungil Rani yang tidak henti-hentinya mendesah karena dientot oleh Kamil. Karena entotan Kamil itu, Rani jadi tidak konsentrasi dalam menghisap milikku. Terkadang dia menggantinya dengan kocokan tangan. Malah semakin lama ketika entotan Kamil semakin kencang, Rani hanya memegangi kontolku tanpa diapa-apakan. Karena posisi kontolku yang begitu dekat dengan wajahnya maka kontolku itu hanya menggesek-gesek pipinya saja. Karena nampaknya Rani kesulitan menangani dua kontol sekaligus maka akupun mengalah. Aku turun dari ranjang dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Kamil. Akupun menyaksikan persetubuhan mereka yang semakin membara.

Entah berapa lama, mungkin sekitar 10 menitan, mereka sepertinya akan mencapai puncak kenikmatan bersama. Genjotan Kamil semakin cepat sementara rintihan Rani juga semakin sering dan keras terdengar. Sampai akhirnya Kamil dengan suara agak tersengal berkata,”Ran…gue…udah….mo…nyampe…”. Mendengar itu Rani memutar-mutar pantatnya cepat sekali mengejar kenikmatan yang ingin diperolehnya bersama. Sampai akhirnya dalam suatu hentakan yang keras Kamil membenamkan kontolnya sedalam-dalamnya didalam veggy Rani. “Aaahh….”, teriak mereka hampir berbarengan. Tubuh Rani bergetar hebat dan wajahnya menengadah dengan mata terpejam dan alis berkerut. Mulutnya terbuka lebar sambil memekik “Aahh…Aaaahh…” berkali-kali. Pantatnya didorong-dorongkan kebelakang seolah ingin menelan habis seluruh kontol Kamil yang masih tersisa. Mereka mendapakan puncak kenikmatan berbarengan dan hal itu berlangsung hampir selama 15 detik. Setelah itu mereka pun ambruk bertindihan. Kamil mencabut kontolnya lalu kemudian berbaring telentang disamping Rani yang masih tengkurap. Mereka berdua nampak tersengal-sengal dan berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Rani kemudian memutar badannya baring menelentang.

Mereka berdua nampak kelelahan karena tak lama kemudian mereka tertidur. Aku yang masih merasa nanggung lalu bangkit mendekati ranjang dengan maksud untuk menuntaskan hasratku dalam veggy Rani. Aku tidak perduli dengan Rani yang masih kelelahan. Aku naik keatas ranjang dan menempatkan kontolku dihadapan veggy Rani yang masih tertidur. Dari dalam veggy itu mengalir cairan putih yang meski tidak sebanyak tadi tapi masih cukup jelas terlihat. Aku tidak tahu apakah Rani memang telah tidur atau berpura-pura saja karena ketika aku melap veggynya dengan baju Kamil yang ada diatas lantai, dia tidak bereaksi.

Setelah aku yakin veggy Rani sudah cukup kering, pelan-pelan akupun menusukkan kontolku ke dalamnya. Ternyata dia tidak tidur karena meskipun matanya tertutup tapi dia menggigit bibirnya. Akupun mengecup bibir itu ketika kontolku telah terbenam seluruhnya. Dia membuka matanya sambil berpura-pura merajuk, “Kamu tuh masukin barang tanpa minta izin”, katanya. “Habis masih penasaran sih mbak”, ujarku sambil menciuminya dengan gemas. Dia membalas ciumanku dan kita pun berciuman cukup lama sampai akhirnya dia melepaskannya dan berkata sambil tersenyum, “Digoyang dong”.

Akupun mulai menaik-turunkan pantatku dengan irama yang lambat. Rani ini memang luar biasa, karena setelah bersetubuh berkali-kali pun, dia masih bisa mengimbangi gerakanku. Dia menjepitkan kakinya dipinggangku sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Awalnya aku mengayuh dengan pelan dan tenang namun seiring dengan bertambahnya rasa nikmat di kontolku akupun meningkatkan tempo kayuhan pantatku. Nikmat yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata dirasakan kontolku. Nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhku yang membuat aku semakin cepat mengayuh kenikmatan diatas tubuh Rani pacar teman kostku itu. Aku semakin cepat menggenjotnya dan Rani pun semakin erotis dalam menggoyang pantatnya. Goyangan yang membuat kontolku terasa dipilin dan diperas. Untungnya aku masih bisa menahan deraan kenikmatan yang ditimbulkan oleh jepitan veggy Rani sehingga tidak sampai muncrat terlebih dahulu seperti tadi. Kali ini aku bertekad untuk mengeluarkan spermaku dalam veggy Rani agar proses kehilangan keperjakaanku menjadi lengkap.

Demikianlah, pacuan kenikmatan yang ditimbulkan oleh maju-mundurnya kontolku dan goyang “dangdut” pantat Rani berlangsung cukup lama. Kami tidak perduli lagi dengan Kamil yang telah tertidur disamping kami dan orangtua Rashid di kamar sebelah. Rani mulai lagi mengeluarkan rintihan-rintihan birahinya. Sampai akhirnya dia memegangi kedua bongkah pantatku dan mengatur gerakan pantatku agar kontolku menggosok daerah tertentu dalam veggynya. Daerah yang agak kasar dan menonjol dalam veggynya namun menimbulkan efek yang lebih nikmat bagi kepala kontolku.

Hal itu semakin menyulitkan aku dalam menahan desakan di ujung kontolku. Karena merasa akan segera keluar, aku mempercepat sodokanku dan ternyata hal itu mempercepat Rani untuk mencapai puncak kenikmatannya. Sodokan-sodokan cepat yang aku lakukan membuat rintihan Rani semakin keras pertanda semakin dekatnya dia dengan puncak kenikmatannya. Akhirnya saat itu tiba. Dengan satu teriakan keras,”Aaaah….”, tubuhnya mengejang dan memelukku erat. Dia mencengkeram pantatku dan menempelkan dengan ketat tubuhnya ke tubuhku. Kakinya menjepit pinggangku dengan kuat. Aku merasakan veggynya berkedut dengan kuat dan membanjiri kontolku. Kedutan veggy Rani itu membuat kontolku serasa diremas-remas dan benar-benar membuatku tak mampu menahan muntahan di kontolku. Akhirnya kontolku memuncratkan isinya bersamaan dengan remasan veggy Rani terhadap kontolku. Kontolku yang sedang menumpahkan isinya itu ditambah dengan kedutan kuat veggy Rani yang menjepitnya menjadi nikmat ganda yang baru pertama kali aku alami dalam hidupku. Nikmatnya bukan alang kepalang. Rasanya aku dilempar ke sebuah tempat yang dalam tak bertepi. Pandangan mataku gelap dan tiap kali deraan kenikmatan itu datang rasanya aku seperti melihat titik cahaya dalam kegelapan itu. Benar-benar sebuah kenikmatan yang luar biasa. Rangkaian kenikmatan demi kenikmatan yang melanda diriku yang diakhiri dengan muncratnya spermaku di dalam veggy Rani menyempurnakan hilangnya keperjakaanku malam itu.

Akhirnya aku ambruk dalam pelukan Rani. Aku mencium bibirnya dengan mesra dan sayang. “Makasih mba”, ungkapku jujur padanya. Dia hanya tersenyum dan balas menciumku. Sebenarnya aku juga harus berterimakasih pada Kamil yang telah mengatur semua ini. Tapi dia telah tertidur disamping kami dan sudah tidak perduli lagi pada aktivitas kita. Aku mencabut kontolku dan menggelosoh turun dari tubuh Rani. Spermaku tumpah keluar dari dalam veggynya dan lumayan banyak mengalir melalui rekahan pantatnya. Aku berbaring disampingnya dengan tubuh lunglai. Jam telah menunjukkan pukul 12.30. Itu artinya sudah sejam lebih aku dikamar Kamil. Kami sama-sama terdiam dan Rani tak lama kemudian tertidur. Aku sendiri masih berbaring dalam keheningan mengingat-ngingat kembali malam yang luar biasa ini.

Meski ukuran ranjang Kamil cukup besar tapi tak urung terasa sempit juga. Apalagi ventilasi di kamar Kamil tidak sebaik di kamarku karena terletak ditengah antara kamarku dan kamar Rashid sehingga jumlah jendela lebih sedikit dari kamarku. Untungnya udara malam Bandung membuat kami tidak terlalu kegerahan. Maklum hanya ada kipas angin yang menemani kami. Aku yang tidak bisa tidur akhirnya memutuskan untuk balik ke kamarku. Sewaktu bangkit untuk mengenakan baju aku terangsang melihat Rani yang tertidur dalam ketelanjangannya. Aku berpikir untuk mengajak Rani ke kamarku. Siapa tahu saja aku bisa menyetubuhinya lagi. Aku tidak jadi mengenakan bajuku dan dengan tetap bertelanjang aku bangunkan Rani.
“Mba….mba…mba”, kataku berusaha membangunkannya sambil menjawil-jawil pipinya. Dia akhirnya terbangun.
“Dikamarku aja yu mba. “, kataku ketika dia terjaga. Dia menggeliat sehingga membusungkan dadanya yang membuat nafsuku bangkit kembali. Pelan-pelan penisku membesar kembali.
“Emang kenapa Ri? “, tanya Rani malas.
“Disini panas dibandingkan kamarku. Lagian mas Rashid sering ke kamar ini. Dia kan akrab sama mas Kamil. Kalau ntar atau besok, mas Rashid pulang terus ngetuk kamar ini, gimana?”, ujarku memberiku alasan. Alasan yang tidak dibuat-buat dan memang masuk akal kok.
“Gitu ya, Ri?” ujar Rani setengah khawatir. Dia bangkit. “Ya udah deh ke kamar kamu aja. Tapi aku jangan diapa-apain lagi ya”, pintanya.
“Iya yuk…”, jawabku sekenanya. Dalam hati aku tidak menjamin akan memenuhi permintaannya. Untungnya dia tidak melihat penisku yang sudah tegak karena aku menutupinya dengan kaos oblong dan celana pendekku yang kupegang dengan tangan. Sepatu hak tinggi miliknya yang terletak di dekat pintu pun diangkatnya.

Dia mengambil tasnya dan memungut bra, kaos oblong, dan celana dalam miliknya yang tergeletak dilantai. Dia ingin mengenakannya.
“Duh…mba, gak usah. Disebelah aja biar cepet.”, kataku melarang.
“Kamu tuh kaya Kamil aja. Satu perguruan sih ya?”, jawabnya sambil tersenyum. Aku agak bingung juga dengan kata-katanya.
“Ya udah deh yuk. Gak ada orang kan diluar?”, lanjutnya.
“Gak ada.”, jawabku sambil mengintip keluar. “Udah kan? Itu aja? Jeansnya mana?”, tanyaku heran melihatnya memegangi semua baju dan tasnya tapi tanpa jeansnya. Seingatku tadi dia datang ke rumah ini mengenakan jeans. Lucu sekaligus merangsang deh melihat Rani dalam keadaan seperti itu. Dia menggantung tasnya di bahu tapi bertelanjang dan hanya memegangi baju-bajunya.
“Gak sempat dikeluarin dari kamar Rashid. Keburu ortu Rashid datang. Tapi sama Kamil sudah diumpetin dalam dos pembungkus tape recordernya punya Rashid yang ada dibawah tempat tidurnya. Duh…harus segera diselamatkan tuh kalau enggak bisa kacau nanti.”, jawabnya.
“Oh iya…besok begitu Rashid pergi kita langsung keluarin tuh. Lagian tanpa itu gak bisa pulang kan?”, jawabku. Aku mulai bisa menebak bagaimana awalnya tadi hingga akhirnya Rani bisa kami setubuhi malam itu.

Aku pun membuka pintu dan setengah berlari ke kamarku disebelah yang tidak terlalu jauh. Rani segera mengikutiku juga dengan setengah berlari. Sampai di kamarku, dia melihat sekeliling dalam kamarku sambil terlihat hendak mengenakan bajunya. Namun segera kucegah. Aku menarik tubuhnya kearahku dan mendekapnya. “Ri…kamu mau ap…”, dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena aku mencium bibirnya erat. Awalnya dia diam saja namun akhirnya membalas mesra ciumanku. Aku menarik lepas baju-baju, tas dan sepatu yang dipegangnya. Kami pun berciuman bertelanjang bulat sambil berpelukan erat. Rani pasti tahu bahwa aku menginginkannya lagi dari kontolku yang sudah tegak dan menunjuk perutnya.

Aku kemudian mematikan lampu kamar agar kalaupun ada yang mengintip tidak akan bisa melihat kegiatan kami. Itupun dengan tirai jendela yang masih tertutup sehingga tak akan mungkin orang luar untuk melihat keadaan di dalam. Kami hanya mengandalkan lampu luar lewat jendela atas untuk penglihatan. Selesai berciuman, aku berjongkok menjilati veggynya sambil tanganku meremas-remas payudaranya. Rani nampak sangat menikmatinya. Dia berpegangan ke dinding kamar untuk menyangga tubuhnya yang sedang kenikmatan. Akhirnya setelah sama-sama terangsang kami pun mulai mengambil posisi untuk bercinta kembali. Rani aku minta menungging di kursi kamarku dan wajahnya ke arah tirai jendela.

Singkat kata, kami pun bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Rani berpegangan pada sandaran kursi ataupun pegangan tangan kursi. Sementara pantatnya bergerak maju-mundur berlawanan arah dengan gerakan maju-mundur kontolku dalam veggynya. Kadang diputar-putarnya membuat kontolku terasa diremas-remas namun nikmatnya benar-benar menggetarkan. Rani pun sangat menikmatinya terdengar dari suaranya yang terus saja merintih-rintih nikmat. Selagi kami bercinta dalam posisi itu, tiba-tiba kami mendengar gerbang belakang rumah di buka. Tidak lama gerbang itu ditutup kembali dan terdengar langkah orang menaiki tangga. Tidak salah lagi Rashid sudah pulang dan demi mendengar pacarnya pulang Rani menghentikan gerakannya. Tubuhnya terasa tegang dan dia diam dalam gelap. Aku yang sedang berada dalam kenikmatan tidak memperdulikannya dan terus saja memompa veggy pacar Rashid tersebut.

“Ri…berhenti dulu dong, nanti kedengaran Rashid”, katanya berbisik.
“Enggak mungkin mba…asal kita gak bersuara, gak akan kedengaran”, jawabku berbisik pula tanpa menghentikan gerakan maju-mundurku.

Aku mendengar suara Rashid duduk di kursi tempat aku dan Kamil mengobrol tadi. Dia pasti mau melepas sepatunya sebelum masuk ke kamar. Itu kebiasaan kami semua yang kost disini. Tiba-tiba timbul pikiran iseng dan nekatku. Tirai yang menutup jendelaku aku tarik kesamping sehingga kami bisa melihat apa yang dilakukan Rashid.

“Ari…ngapain kamu?”, Rani terpekik tertahan.
“Biar kelihatan mas Rashid lagi ngapain mba, jadi kita bisa jaga-jaga kalau dia mendekat ke kamar ini, ” jawabku sekenanya untuk menenangkannya. Untuk sementara aku menghentikan pompaan kontolku.
“Iya tapi …” ,Rani berusaha untuk protes namun segera aku bungkam dengan mulutku. Kami pun berciuman mesra kembali.
“Kamu tuh ya, nekat dan nakal,” ujar Rani setelah aku melepaskan ciumanku. Dari cahaya yang berasal dari luar jendela, aku melihat senyum manis Rani diwajahnya yang cantik ketika dia mengatakan itu.
Tiba-tiba aku menghentakkan kembali kontolku ke dalam veggynya.
“Owww…uhhhh…kamu tuh….ah….”, reaksi Rani ketika aku melakukan itu. Dia tidak berani merintih keras karena di depan kamar pacarnya masih sedang duduk dikursi.
“Jangan dulu dong Ri, nanti …”, kata Rani sambil berusaha memegang pinggangku.

Tapi aku tidak perduli. Aku pun terus saja memompanya. Rani sudah tidak berdaya dalam situasi seperti itu. Malah akhirnya dia membalas goyanganku dan menikmatinya kembali meski pacarnya masih ada di dekat situ. Kami bercinta sambil mengamati kegiatan Rashid yang sedang membuka sepatu dan jaketnya. Dalam jarak kurang dari 3 meter, Rashid tidak menyadari bahwa Rani pacarnya sedang asyik memadu kenikmatan ragawi sambil menikmati kontol lelaki lain yang masih merupakan sahabatnya.

Entah apa yang ada dalam pikiran Rashid karena setelah selesai membuka sepatunya pun dia masih duduk-duduk di kursi itu. Dia seperti sedang memandang ke arah kami. Tapi sebenarnya tidak demikian karena kursi yang didudukinya memang mengarah ke kamarku.

“Dia kaya ngeliatin kita ya mba…”, kataku di sela-sela persetubuhan kami.
“I…yaa…”, jawab Rani cuek diantara desahannya.
“Kalau dia ternyata emang ngeliatin gimana?”, godaku.
“Udah…ah… rewel… ngentot ya ngentot aja..”, jawab Rani berpura-pura kesal.

Sementara kami berdua sudah semakin mendekati puncak kenikmatan kami. Gerakan maju-mundur pantatku semakin cepat sementara putaran pantat Rani juga semakin intensif.

“Mba…aku… udah… ham….pirr…”
“Bareng Ri…bareng… aku…juga…hampir…”
Kami berpacu lebih hebat lagi membuat kursi kamar agak berderik. Kami tidak perduli dengan bunyi itu dan dengan Rashid yang masih duduk di depan kamarku. Dan akhirnya setelah tidak mampu menahan kenikmatan yang terus mengumpul di ujung kontolku, dengan satu hentakan keras, aku menumpahkan berliter-liter lahar panas di dalam liang kenikmatan Rani. Aku menekan erat pantatku dan menanamkan kontolku sedalam-dalamnya di tubuh Rani. Pada saat bersamaan, Rani menarik wajahku dan menciumku erat sekali.

“Mmmmmmmmm……..”, dia memekik tertahan karena mulutnya tersumpal mulutku. Dia juga sudah sangat dekat dengan orgasmenya. Badannya bergetar menandakan gelombang orgasmenya mulai datang. Dia melepaskan ciumannya sambil berteriak pelan “Aaaahh” dan menghentakkan pantatnya ke belakang membuat veggynya menelan lebih jauh kontolku. Dia orgasme lagi. Kami mencapai puncak secara hampir bersamaan. Badai kenikmatan yang luar biasa kembali kami arungi.

Kalau tidak karena ada pacarnya di luar kamarku tentu Rani sudah kembali memekik bebas karena orgasmenya tersebut. Namun dia hanya menahan suaranya dan kemudian menggigit bantalan sandaran kursiku yang empuk. Badan kami berdua bergetar oleh nikmatnya puncak persetubuhan kami. Kontolku yang terus menerus berkedut sambil memuntahkan isinya sedang dijepit oleh veggy Rani yang menghisap kuat kontolku. Untuk yang kesekian kalinya aku merasakan kenikmatan seks yang luar biasa malam itu. Jiwaku serasa dibawa terbang melayang karena kenikmatan yang kualami itu.

Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berakhir aku seolah dihempas kembali ke bumi dalam keadaan letih namun sangat damai. Aku tidak menyadari kapan Rashid masuk kamarnya tapi dia sudah tidak ada di depan kamarku. Sementara itu Rani sudah tertunduk lemas di sandaran kursiku dan tidak bersuara apapun lagi. Dia juga pasti telah sangat lelah setelah berkali-kali orgasme malam ini dengan 2 orang pria.

Aku mencabut kontolku dan cairan spermaku tumpah keluar dari dalam veggynya. Cukup banyak hingga mengalir di pahanya. Aku ambruk diatas karpet sementara Rani masih dalam posisi menunggingnya dengan kepala yang bersandar diatas sandaran kursiku. Tak lama diapun bangkit dan pindah ke ranjangku. Dia berbaring di ranjangku tanpa berkata apa-apa lagi. Aku yang masih terbaring lemas diatas karpet juga hanya terdiam. Mungkin karena saking letihnya tidak begitu lama aku mendengar dengkuran lembut cewek itu. Aku pun menyusul pindah ke atas ranjangku bergabung dengannya. Sebelum tidur aku mencium lembut bibirnya dan berbisik pelan “Makasih ya mba. Malam ini luar biasa banget”. Sepertinya dia masih mendengarku karena dia berkata “mmm” sebagai respon kata-kataku. Akupun berbaring disampingnya dan tak menunggu lama akupun ikut tertidur.

Paginya aku terbangun sekitar pukul 8. Begitu aku membuka mata, aku melihat wajah cantiknya yang sangat alami yang masih tertidur disampingku. Dengan rambut awut-awutannya malah semakin menambah kecantikan alaminya. Posisiku sendiri sedang memeluknya. Aku merasakan kontolku yang sudah terbangun kembali menempel ditubuhnya entah di bagian mana dari tubuh Rani tapi mungkin dipahanya. Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan cewek secantik dan seseksi ini. Apalagi dengan permainan seksnya yang luar biasa benar-benar cewek yang ideal sebagai pelepas keperjakaanku. Hehehehehe…

Aku tidak ingat kapan menutup tubuh kami tapi yang jelas tubuh kami berdua tertutup selimut. Mungkin mba Rani yang melakukannya karena biasanya suhu akan sangat dingin menjelang subuh. Aku membuka selimutku dan bangkit menuju kamar mandi. Sempat tersingkap tubuh indahnya yang membuat aku bernafsu untuk mengentotnya lagi, apalagi kontolku memang sedang mengacung tegak. Tapi melihat keadaannya yang tertidur pulas dan damai, aku jadi tidak tega. Aku pun meneruskan melangkah ke kamar mandi lalu bersih-bersih disitu.

Cukup lama aku di kamar mandi dan setelah selesai akupun balik ke tempat tidur lagi untuk bermalas-malasan. Siapa tau bisa mengentot Rani lagi, pikirku. Ternyata dia telah bangun tapi masih berbaring dibawah selimutnya. Dia seperti sedang bengong memikirkan sesuatu tapi dia tersenyum melihat kontolku yang sudah berdiri lagi.
“Pagi mba…”, kataku sambil mencium bibir mungilnya.
“Mba sekali lagi makasih ya buat malamnya yang luar biasa”, kataku kembali.
“Iya…..”, jawabnya tersenyum, “tapi ini kenapa nih?”, tanyanya kemudian sambil menunjuk kontolku.
“Ooh…ini? Biasa deh kalo pagi dia suka duluan bangun. Apalagi kan dia tau dia belum dapat jatah pagi”, jawabku sambil menggoda Rani.
“Huuuu….. maunya!”, jawab Rani sambil memonyongkan bibirnya.

Melihat itu aku segera menyergap bibirnya dan bergerak menindihnya. Aku bermaksud untuk menyetubuhinya lagi tapi segera ditahan oleh Rani.
“Ri..ri…ntar dulu Ri, ambilin jeansku dulu dong di tempat Rashid.”, katanya. “Aku musti segera pulang takutnya dia ke tempat kostku nanti.”, lanjutnya kemudian. Akupun mengurungkan niatku dan ikut memikirkan kata-kata Rani.

“Dia masih dikamarnya nggak ya?”, kataku setengah bertanya.
“Nah itu dia aku gak tau. Aku enggak denger suara apa-apa diluar juga disebelah di kamarnya Kamil.”, jawab Rani kebingungan.
“Oke gini deh aku keluar dulu liat situasi. Kalau ada kesempatan aku masuk ke kamar Rashid terus ambil jeans mba. Mba punya kuncinya kan?”
“Ada ditasku. Untung semalam sempat aku bawa keluar, kalau enggak wah kacau..”.
Akupun bangkit dan mencari tasnya. Setelah aku temukan, aku mencari kunci itu dan segera aku menemukan kunci kamar Rashid didalamnya.
“Oke mba aku keluar deh liat situasi tapi….”, aku sengaja menghentikan kata-kataku.
“Tapi apa?”, kata Rani penasaran. Aku tidak menjawab tapi hanya tersenyum menggodanya. Sepertinya dia sudah menangkap maksudku terlihat dari tatapan matanya yang berpindah ke kontolku yang sedang mengacung tegak.
“Duuuhh… nanti aja dong”, katanya membujukku.
“Mba…gak enak kan mba kalau dilihat orang ada bagian yang menggelembung.”, kataku memberi alasan sekenanya. “Ini dulu dong dikecilin..”, kataku kemudian sambil menunjuk kontolku.
“Ih… kamu tuh!! Dasar perjaka!! Sini…”, ujar Rani berpura-pura marah. Aku pun mendekatinya. Dia pun bangkit duduk sehingga selimutnya terlepas dan memperlihatkan keindahan tubuhnya.
“Di oral aja ya. Aku masih cape dan veggyku agak perih nih dijeblosin dua kontol semaleman…”, katanya lagi sambil memegang kontolku ketika aku sudah berada di hadapannya.
“Ya udah gapapa.”, jawabku meski sebenarnya aku lebih suka jika kontolku di masukkan ke dalam veggynya. “Tapi nanti kalau udah ketemu jeans mba, aku mau ini ya?”, lanjutku sambil memegang veggynya.
“Iya gampang…”, katanya sambil mulai menghisap kontolku.

Diapun mulai mengoralku. Namun karena tidak senikmat veggy maka aku sulit untuk ejakulasi. Rani yang sudah tidak sabaran akhirnya memintaku memasukkan saja kontolku ke veggynya. Sebelumnya aku diminta membasahi veggynya terlebih dahulu agar kontolku mudah masuknya. Akhirnya pagi itu akupun ejakulasi kembali di dalam veggynya.

Singkat kata aku berhasil “menyelamatkan” jeans Rani dr kamar Rashid dengan bantuan Kamil yang mengajaknya keluar. Rani pun bisa pulang ke kost-annya dan Rashid sama sekali tidak mengetahui pengalaman hebat pacarnya itu. Sebelum pulang Rani masih sempat menghadiahi aku dengan sebuah persetubuhan yang indah di kamar mandi dalam kamarku. Orangtua Rashid sendiri pulang keesokan malamnya setelah tanpa sengaja “membantu” kami mendapatkan Rani.

Sampai lulus kuliah dan menjelang menikah pun Rani masih sering “bermain” dengan aku dan Kamil. Kadang bertiga tapi lebih sering berduaan saja. Capek kata Rani kalau harus meladeni kami berdua sekaligus. Sewaktu belum lulus hampir semuanya dilakukan di kost-an kami. Biasanya pada saat dia main ke tempat Rashid, kita memanfaatkan waktu tersebut untuk mencuri-curi kesempatan ngentot apalagi kalau Rashid sedang tidak ada di kamarnya. Wah sudah kaya piala bergilir deh dia. “Beli satu dapat tiga”, kalau kata Rani.

Di akhir semester itu sewaktu libur panjang, Rashid mendapatkan kesempatan kerja praktek di Balongan sedang Kamil ikut acara kampus di luar negeri. Rani bolak-balik ke kost-an Rashid untuk mengerjakan TA-nya dan TA Rashid. Aku yang mustinya pulang liburan membatalkan rencana tersebut dan memutuskan “menemani” Rani selama Rashid dan Kamil tidak ada. Jadilah aku dan Rani menikmati “bulan madu” selama dua minggu di kost-an. Kita entot-entotan tanpa henti selama 2 minggu tersebut kecuali Sabtu sore dan Minggu ketika Rashid datang. Benar-benar pengalaman indah dan erotis yang tak terlupakan.

Beberapa kali Rani hamil, entah oleh Rashid, Kamil, maupun aku, namun Rashid selalu bisa menyelesaikan masalah itu dan dia tidak tahu kalau bibit itu tidak selalu dari dia. Menurut pengakuan Rani padaku, lelaki yang pernah berhubungan badan dengannya adalah pacarnya waktu tahun kedua yaitu kakak kelasnya ( lelaki yang mendapatkan keperawanannya ), kami bertiga, adik ibu kostnya, atasannya, pacar bulenya ( yang kemudian menikahinya ) dan pernah dengan salah satu dosen di kampusnya. Dosen itu tidak mau meluluskannya karena nilai ujiannya yang buruk namun akhirnya meluluskannya setelah merasakan nikmatnya veggy Rani.

Rani sendiri akhirnya tidak jadi menikah dengan Rashid dan menikah dengan seorang bule Australia. Kini dia tinggal disana dan terakhir kabarnya mereka akhirnya punya anak 1 setelah lama menikah. Rashid sendiri menikah dengan seorang cewek Jakarta yang dikenalkan oleh tantenya. Sedang Kamil menikah dengan adik kelas Rani.