Desahan Enak

Berbagi ceita dewasa dan juga cerita mengenai kenikmatan dunia.

Tuesday, October 31, 2017

Desahan Enak Gilabet






Cerita Dewasa - Aku menikah disurabaya, waktu itu aku kost dirumahnya dan anak ibu kost ini masih sekolah di SMK jurusan TUP. Kami pacaran dan dengan didasari cinta kamipun dipadukan dalam perkawinan isteriku asli madura tapi sejak lahir sudah berada disurabaya,jadi bahasanya meddok bahasa suroboyoan ciri khas maduranya telah hilang sama sekali aku masih ingat pada saat pesta perkawinan dulu ada seorang gadis manis yang datang lebih awal sebelum hari h perkawinan kami isteriku memperkenalkan namanya Lolita, sepupu isteriku, ia tinggal di bangkalan dan sekolah disana dan saat perkawinan kami berjalan setahun kami pernah ke bangkalan dan mampir dirumah Lolita rupanya dia juga telah menikah dengan seorang pengusaha katanya.

Setelah lama kuketahui suaminya jualan velg dan ban bekas disurabaya, rumah Lolita tidak jauh dari rumah orangtuanya alias rumah tante isteriku genap 2 tahun perkawinan kami kami telah dikarunai seorang anak laki laki yang sehat dan saat itu masih berusia 27 hari, berarti sudah lebih 1 bulan adik kecilku diselangkangan nganggur aku ditugaskan oleh kantor ke bangkalan karena urusan ini selama 2 hari terpaksa harus menginap dibangkalan, iseng iseng aku main ke rumah Lolita , suami Lolita sudah barang tentu tidak ada dirumah karena hanya seminggu sekali ia balik kebangkalan yaitu cuma hari sabtu dan hari seninnya suaminya balik lagi kesurabaya, kami ngobrol banyak tentang keluarga dan tak terasa makan kian larut, niat utk nginap di rumah Lolita semenjak siang tadi sudah menjadi cita cita, tapi dengan alasan yang dibuat buat, aku bangkit berdiri ingin pamitan.
“Lho……..mo kemana????” “Mo balik ke penginapan…” jawabku. “Udah malam nih mas adiii…tanggung nginap disini aja….khan ada kamar kosong tuh…paling depan….lagi pula mas aku disurabaya kok….sepi rasanya rumah gak ada laki lakinya…” “bi irah…..sudah tidur dari tadi …beliau jam 8 sudah ndengkur malah…….” tambahnya lagi Aku bersorak dalam hati, “Horeeeeee umpanku berhasil juga…” pikirku.
Kemudian lagi tambahnya, “Lolita paling senneng nonton KONAK yang ditayangkan T**** TV tapi acaranya malam benner, kalo sendiri Lolita kadang takut dirumah yang sebesar ini ” Rupanya KONAK menayangkan acara selingkuh selingkuhan dengan gaya KOCAK, akupun menikmatinya, kami duduk berdekatan disofanya yang panjang, sambil minum coca cola dan kacang garuda yang kubawa tadi sore, ia asik menatap adegan demi adegan di TV, aku meliriknya “achhhhhhhhh sepupu isteriku ini memang …cantik…..dan lincah….juga periang…..” Bisikku dalam hati.
Apabila adegan lucu yang disaksikannya di TV membuatnya tertawa lebar terkadang kepalanya disandarkannya ke banhuku, seakan mengajakku ikut tertawa…yeah, aku ikut tertawa tapi adik kecilku malah marah, maklum sudah 1 bulan lebih gak berendam, dan akhirnya kuberanikan diri pas saat ia akan menyandarkan kepalanya malah bibirku yang kusodorkan dan “cuupppp…” Pas pipi kirinya, ia menatapku sejenak, sambil meninjuki ku seakan kejadian itu juga lucu, ia hanya senyum, tidak marah “achhhhhhhh aku harus lanjutkan perjuanganku demi adik kecilku” Kataku dalam hati.
Kudempetkan badanku kami duduk rapat sekali, tanganku melingkar diatas pundaknya ia cuma diam, kutarik badannya mendekati badanku, ia juga diam, kubalikkan wajahnya, kukecup bibirnya pelan, selembut mungkin, ia hanyut, ciumanku dibibirnya, terbalas, lidahnya bergoyang dalam mulutku, kamipun berpagutan, akhirnya dengan tidak diketahui siapa yang mulai kami berdiri, TV kami matikan, kami berjalan kekamar paling depan, kami berpagutan lagi, dasternya kulepas, BH nya, juga sdh lepas, kami bergumul, diatas ranjang, foreplay, berlangsung sangat singkat, kemaluanku sdh sangat mendesak, dan akhirnya, berendamlah adik kecilku, 45 menit berlalu, permainan kami berlangsung dengan ganasnya, rupanya nafsu Lolita , sangat besar, dan iapun mendapatkan orgasmenya yang pertama, Kami terdiam sesaat kemudian “Aku kepengen pipisss sayang, aku kekamar kecil dulu yah????..boleh ?” pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku. “Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih..” ujarku jahil sambil tersenyum.
Sambil mencubit pinggangku Lolita melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya “Plop..” Sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar, aku menatapi Lolita berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat.
Tubuh Lolita mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Lolita menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. “Ahh..punyamu enak ya Lolita ..bisa ngempot-ngempot gini..”ujarku memuji “Enak mana sama punya isterimu ?” tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum “Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh..” kucium mesra bibirnya dan Lolita memejamkan matanya.
Kemudian kucabut penisku “Ploop..” “Aahh..” Lolita agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Lolita merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya “Mmhh..mmhh..” tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur “Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja..dan kamu bener-bener bikin aku puas.” puji Lolita , “Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke ?!” balasku, sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu.
“Sleepp..” “Auuwhh..”Lolita agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis wanita ini……, Lolita merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek “Hehhnghh..engghh..aahh.! .” erangnya. Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Lolita yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Lolita mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh “Aahh….oohh..sshh..aahh…hemhh..enghh..aahh..adhii. .aahh..teruss..teruss. . ….oohh..enghh…” Sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya
“Enghh..Lolita ..oohh..ennakh..sayang..?” tanyaku “He-eh..enghh..aahh..enghh..enakhh..banghethh..dhii…aa hh..” lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya “Oohh..adhii..oohh..enghh..” Tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Lolita yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali.
Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Lolita yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisap-hisap “Enghh..Adhii..oohh..shaa..yang..aahh..” kedua tangan Lolita meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti.
Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas………. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah.
Lolita tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh.
“Oohh..Ahh..Dhii..enghh..ehn..nnakhh..aahh..mmnghh ..aahh..enghh..oohh..” desahan dan rintihan Lolita menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu………….ruar…biasa……….. Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan tubuhku diatas tubuh Lolita , kedua kaki Lolita mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman “Mmnghh..mmhh..oohh..ahh..Dhii..mmhh..enghh..aahh. .”
“Oohh..Lolita ..enghh..khalau..mau sampai..oohh..bhilang..ya..sha..yang..enghh..aahh. .” ujarku meracau “Iyaa.. Iyaa….oohh..enghh..aahh..aahh..” tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekana! n dan kekiri pinggul Lolita . “Oohh..enghh..aahh..dhii..oohh..uu..dhahh..belomm. .engghh..akhu..udahh..ngga k khuat..niihh..aahh..”
Erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya “Dhikit..laghi..sayang..oohh..enghh..mmhh..aahh ..aahh..” sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut “Aahh..aa..dhii..noww..noww..oohh..oohh.. enghh..aahh..aahh..” jeritnya “Yeeaa..aahh..iimm..aahh..aahh..enghh..aahh..” jeritanku mengiringi jeritan Lolita , akhirnya “Aahh..aahh..enghh..mmhh..aahh..”
Kami mencapai klimaks bersamaan, “Srreett..crreett..srreett..crreett..srreett..crre ett..” ran kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vag! ina Lolita , sementara Lolita membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.
“Aahh..mmhh..oohh..enghh..emnghh..Adhi..aahh..emmh h…hhuuhh..” Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Lolita masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.
Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya.
“Adi..kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh..” Ima berkata sambil menghela nafas panjang “Ma kasih ya sayang..thank you banget..”ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore.
Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku “Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang..” “Pasti !” jawabku, lalu kami kembali berciuman.

Saturday, October 28, 2017

Desahan Enak Gilabet




Cerita Dewasa - Kisah ini bercerita tentang aku dan keluargaku yang dulu memiliki pengasuh namun kini telah resign.Tetapi pada suatu hari, keluarga kami kedatangan tamu dan ternyata dia adalah bekas pengasuhku dulu. Ia pun telah tumbuh menjadi sorang wanita muda yang matang dengan postur tubuhnya yang mempesona.
Meskipun wajahnya tidak begitu cantik, tapi kemulusan dan kehalusan kulitnya dapat menambah nilai kecantikannya tersebut, maklum saja karena ia berasal dari desa yang berhawa dingin. “Permisi.., Bu…”, sapanya kepada ibuku.
“Oh.. kamu.. Sari… Kok sekarang sudah segede ini. mana suami kamu?”, tanya ibuku.
“Sudah pisah kok Bu”.
“Lho, kenapa?”.
“Itu Bu…, dia kawin sama perempuan lain”.
“Oh ya Bu…., mana Den Rully?”.
“Lha itu dia di sebelah kamu….”.
Memang dari tadi aku terus memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Buah dadanya yang besar dibalut dengan baju lengan panjang warna biru tua, pinggulnya yang bulat dibungkus dengan rok warna cream dibawah lutut. Ck…, ck…, bukan main mantan pengasuhku ini…, pikirku.
“Aduh Deen…., kok sudah besar gini toch, mana ganteng lagi”, sapanya.
“Lha iya wong diberi makan tiap hari kok”, jawabku.
“Wah kalo gini sich, kalo ketemu di jalan, saya pasti pangling lho”.
“Aku juga gitu.. kok Mbak… pangling sama Mbak. Udah punya anak belum?”.
“Belum Den”.
“Jangan panggil Den ach…, Mas aja gitu lho. Kan Mbak sudah bukan pengasuhku lagi. Jadi hubungan kita seperti temen aja, ya khan”.
“Iya deh Mas”.
“Udah sana istirahat dulu”, kata ibuku menyela.
“Terima kasih…, Bu”.
Kemudian Sari pergi ke belakang mencari kamarnya yang dulu untuk tidur. Sejak kepergian Sari dulu, kamar tersebut hanya dijadikan tempat untuk menyeterika pakaian. Dan sejak aku dan saudaraku sudah berangkat remaja, Ibu tidak lagi mempekerjakan pembantu, sehingga kamar tersebut dapat digunakan lagi oleh Sari. Cerita dewasa terbaru
Pada suatu hari, Ibu sedang ke pasar, saudaraku sedang kuliah, dan karena aku perlu pakaian untuk pergi ke rumah teman, maka aku menyeterika baju di ruang seterika. Di situ kebetulan tidak ada Sari, entah kemana. Tetapi tiba-tiba Sari masuk kamar dengan rambut yang masih basah. Kelihatannya dia baru saja selesai mandi dan keramas.
“Oh ada mas Rully toch”.
“Maaf ya Mbak ngganggu, sebentar kok, cuman satu baju”.
“Kalo boleh saya bantu Mas…, biar cepat selesai”.
“Ah.. nggak usah. Makin lama di sini makin seneng kok..”, godaku.
“Ah.. Mas bisa aja”.
“Mbak sekarang kerjanya di mana?”.
“Nggak ada Mas, makanya saya mau minta tolong sama Ibu”.
“Aku dukung dech Mbak, biar nanti bisa mandiin aku lagi”, godaku lagi.
“Kan udah nggak bisa lagi”.
“Kenapa? Apa karena saya sudah besar?”, suaraku sudah mulai terbata-bata menahan nafsu yang sudah mulai datang. Kulihat mukanya memerah. Dadanya turun naik, sehingga semakin terlihat menonjol di balik blusnya yang agak tipis.
“Kan malu Mas..”.
“Ya kalo dilihat orang sich malu, tapi kalo cuma berdua kan enggak”, pancingku.
Tanganku mulai mencoba memegang tangan kirinya. Ia diam saja. Tangan kiriku menarik bahunya yang kanan untuk mendekatkannya ke tubuhku. “Jangan Mas…, nanti dilihat orang… nanti Ibu datang”, katanya bergetar. Tampaknya ia juga sudah mulai merasakan rangsanganku.
Aku sudah tidak peduli, kutarik dengan perlahan-lahan wajahnya ke wajahku, dan dengan lembut kucium bibirnya…., “Uuch…, ehm…., ja…, ngan.., Maass…, ach..”, dan dengan perlahan-lahan lidahku kumasukkan ke mulutnya dan kumainkan, “Aach…, saya mohon Mas…, jangan….”, dengan lemah lembut didorongnya tubuhku untuk menjauhi dirinya.
Tapi nafsuku pada saat itu seakan-akan sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Kutarik lagi dengan agak memaksa tubuhnya kedalam pelukanku, dan kucium lehernya yang mulus…, kubuka kancing blusnya yang paling atas, sehingga tonjolan buah dadanya yang besar sedikit terlihat sehingga membuatku semakin benafsu…, “Aduh.., Mas…, jangan Mas…”, pintanya.
Namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar…, “Tok…, tok…, Rully.., tolong bukain pintunya..”, Ibu datang…, waduh.., aku menggumam dalam hati… “Mas, itu ibu datang…”, kata Sari si pengasuh binal sambil membenahi dirinya yang agak kusut karena ulahku tadi.
Siang itu nafsuku belum tercapai. Baru pertama kali itu aku melakukan hal-hal seperti di atas dengan seorang wanita. Selama seharian aku tidak dapat memejamkan mata. Pikiranku terus melayang-layang sampai beberapa hari. Kupikir betapa nikmatnya apabila aku dapat menyelesaikan permainan diatas sampai tuntas. Kesempatan lain ternyata masih ada, ketika itu seisi rumah sedang keluar dan cuaca di luar agak dingin, karena hari menjelang sore. Saat itu Sari sedang menyapu ruang tengah.
Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih agak longgar, bercelana pendek jeans, Sari si pengasuh montok tampak seperti bukan bekas seorang pengasuh. Kulitnya yang putih bersih, dengan rambut tergerai sebahu dan buah dada yang besar membuat jantungku berdegup tidak karuan.
Aku sudah tidak tahan lagi, kutubruk tubuh Sari, kupeluk, kucium bibir, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Kulumat bibirnya, meskipun dia sedikit agak meronta, tetapi tidak sekeras pada saat sebelumnya. Tanganku mulai beraksi, meraba pinggangnya, kemudian menyibakkan kaos oblongnya ke atas sehingga sampailah pada kaitan tali BH yang berada di belakangnya. Cerita sex terbaru
Kubuka kaitannya, kemudian tanganku merayap ke depan hingga tersentuhlah buah dadanya yang masih padat, meskipun agak turun sedikit saking besarnya. Kuremas dengan perlahan sekali…, kupilin putingnya yang sudah berdiri tegak. “Ach…, ach…”, desah Sari. Sekarang dia sudah tidak meronta lagi, tetapi bahkan terlihat menikmati apa yang kulakukan.
Kusibak lebih keatas lagi kaosnya dan kuturunkan mulutku ke putingnya, kucium…, kemudian kusedot dengan perlahan sekali…., “Ach…, aduh mas…., aduh Mas…, Maas… Kepalanya menengadah seakan-akan menyodorkan buah dadanya untuk lebih dimainkan olehku.
Lama mulutku bermain di buah dadanya sampai akhirnya tangannya memegang tanganku dan membimbingnya ke bawah untuk menjamah kewanitaannya. Aku turuti keinginannya dan kugosok vaginanya dari luar celananya…., “Auh.., auh… nikmat.. Mas”. Sekarang posisi tangan kananku sedang menggosok kemaluannya dan mulutku terus mempermainkan buah dadanya.
Kemudian tanganku masuk ke dalam celana jeansnya, dan…., aduh mak…, tersentuhlah rambut halus yang telah lembab. “Uuch.., uch…”, dia mendesah. Sambil terpejam menikmati apa yang kulakukan, tanganku mulai menyibak rambut kemaluannya tadi dan tersentuhlah olehku klitnya… dan “Aauch…, auch… Mas.. nikmat sekali”.
Beberapa saat lamanya ia si pengasuh seksi jadi pasrah dan diam tanpa reaksi. Lama kelamaan, mungkin ia sendiri tidak tahan, hingga ia pun mulai menggerakkan tangannya mula-mula membelai dadaku kemudian turun ke perut dan akhirnya ke celana dalamku. pada saat itu aku mengenakan celana pendek olah raga, dengan kaus singlet diatasnya.
Dia menyentuh penisku, diremasnya dengan lembut, dikocoknya dari luar… “Uugh.., ugh…”, aku merintih kenikmatan “Aadduhh Mbak…, Mbak pintar deh…”, “Ah, Mas juga pintar kok…, malah terlalu pintar dibandingkan usia Mas sendiri…”, desahnya. Kemudian kuseret dia masuk ke dalam kamarku, dan kurebahkan di atas dipanku. Dia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga berada diatasku.. aduh mak, buah dadanya betul-betul indah menggantung di atas hidungku.
Kucium dengan gemas dan kumainkan putingnya dengan mulutku, “Aaacchh…, auch Mas…, auch.., auch..”, sementara itu kulepaskan celana jeans dan celana dalamnya, sambil tangan kiriku terus memeluk pinggangnya dan tangan kananku meremas pantatnya yang masih bulat segar, dan mulutku tetap berada di putingnya. Sementara itu tangannya meremas penisku dengan sedikit mengocok.
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya sehingga kami berada pada posisi 69. Dengan nafsu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya “Aach…, ach..”, bandel juga Mbak ini batinku, tapi tentu saja aku juga menikmatinya. Dikocoknya penisku dengan mulutnya. Tampaknya ia sudah berpengalaman dengan gaya-gaya yang aduhai.
Aku tidak mau kalah, kubuka kewanitaannya dengan tangan, kemudian kujulurkan lidahku dan mulailah aku menjilati bagian yang paling terlarang itu, “Uuch…, uch…”. Kami berpagut lama sekali hingga rasa-rasanya aku ingin segera memasukkan alatku ke liang surgawinya. Cerita dewasa
“Maaas…”. “Ya, Mbak…”. “Tolong dong dimasukin…, saya udah nggak tahan nih…. udah lama saya nggak disentuh, tolong dong mas….”. Aku berpikir sejenak…, bagaimana kalau nanti dia hamil, bagaimana nanti kalau ketahuan oleh Ibu, dll. Tapi aku sendiri sebetulnya juga sudah tidak tahan…, dan akhirnya, “Baik Mbak, ta.. pi…, kalau Mbak hamil gimana dong…” “Saya pakai KB kok mas….”, katanya.
“Baik Mbak…”, kemudian tubuhnya membalik kembali, tetapi posisinya masih di atas. Ia pegang penisku dengan lembut dan menuntunnya memasuki liang surgawinya, dan., “Aachhh.., sshhh…, sshh..”. Penisku serasa dijepit oleh sesuatu yang berdenyut-denyut lembut, dan itu adalah kewanitaannya.
Dia memompa dari atas naik turun beberapa kali, kemudian akhirnya dia merebahkan dirinya ke samping saya, dan meminta saya untuk menyetubuhinya dari atas. Aku naik ke tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulailah aku memompa dari atas, “Aauch…, auucchhh, Mass.., saya mau pipiss…, aachh…, aachhhh…”, dijepitnya pinggangku dengan kedua kakinya.
Penisku serasa akan pecah disedot oleh vaginanya yang bersamaan dengan keluarnya “pipis”nya dan akhirnya akupun tidak tahan, dan, “Aach..”, maniku muncrat di dalam kewanitaannya, “Heh.., heh.”, kamipun lunglai ngos-ngosan. Sambil saling tersenyum, kucium bibirnya, kupeluk, dan sambil berkata, “Terima kasih ya Mbak pengasuh..”, “Malah aku yang harus berterima kasih sama Mas, karena Mas telah memberi saya kenikmatan yang sudah lama tidak saya peroleh”.
Pada hari-hari selanjutnya, aku dan mantan pengasuh ku itu bersikap biasa saja seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. 

Thursday, October 26, 2017

Desahan Enak Gilabet



Cerita Dewasa - Sebut saja namaku Andi, pria berumur 30 tahunan. Aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku. Cerita ini terjadi pada tahun 1993, aku diultimatum ayah untuk melanjutkan kuliah di kota kelahiranku, yaitu kota P*** (edited). Sebelumnya, aku kuliah di kota Y*** (edited) dan kuliahku berantakan karena terjerumus ke pergaulan bebas, ternyata ayah mendapatkan informasi tentang sepak terjangku sehingga keluarlah ultimatumnya.

Setelah mengurus semua surat-surat kepindahan, pulanglah aku ke kota P*** (edited) dan mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta. Di kota P*** (edited), aku tinggal di rumah kakak sepupuku karena orang tuaku tinggal di desa. Kakak sepupuku mempunyai 3 orang anak perempuan yang cantik dan montok. Anak pertama bernama Donna, umurnya 16 tahun. Anak kedua bernama Vivian berumur 13 tahun. Anak ketiga bernama Lisa berumur 11 tahun. Walaupun mereka bertiga masih ABG tetapi tubuhnya benar-benar montok, mungkin karena gizi dan hormon yang berlebihan.”cerita sex
Untuk singkatnya,”cerita sex” aku mulai dengan pengalaman bersama Donna yang berumur 16 tahun dan baru duduk di kelas I SMU. Pada suatu siang, kami berdua nonton televisi di ruang keluarga, acaranya tidak ada yang bagus.
“Om.. tolong pijatin dong betis kakiku, capek nih habis olah raga di sekolah,” kata Donna tiba tiba.
Wah.. kesempatan datang nih pikirku.
“Ayo.. kamu tengkurap di sofa aja ya?” jawabku kegirangan karena merasa mendapatkan kesempatan.
Kemudian Donna telengkup di sofa dan aku duduk di ujung sofa, telapak kakinya kuletakkan di atas pahaku dan aku mulai memijat kakinya. Dengan pelan dan penuh perasaan, aku mulai memijat dari pergelangan kaki terus naik ke atas betis, bergantian kaki kiri dan kanan. Ketika aku asyik memijat betis kaki kanannya, tanpa aku sadari telapak kaki Donna menempel sesaat di kemaluanku dan kontan darahku mengalir kencang serta kemaluanku menjadi keras. Aku perhatikan Donna, apakah dia sengaja atau tidak sengaja, tetapi dia santai saja. Kemudian aku teruskan memijat betisnya dan kejadiannya berulang lagi, karena sekali ini aku yakin Donna sengaja, maka aku nekat menarik telapak kakinya dan menempelkannya di kemaluanku, ternyata Donna diam saja dan hal ini bagiku merupakan lampu hijau.”cerita sex”
Donna semakin berani, telapak kakinya menekan-nekan halus kemaluanku dan kepalaku mulai sakit karena nafsuku mulai naik.
“Donna.. kita pindah ke kamar kamu yuk.., supaya lebih rileks,” kataku penuh dengan harapan.
“Yuk ah.. Donna juga kepengen lebih rileks,” katanya yang membuatku semakin kegirangan.
Setelah di dalam kamarnya, Donna langsung telungkup di atas ranjang dan aku mulai melanjutkan pijatanku. Sekali ini aku jauh lebih nekat, karena aku yakin Donna juga pasti menginginkannya. Sambil memijat betisnya, telapak kakinya kutempelkan di kemaluanku dan Donna tampaknya langsung mengerti, karena setelah itu telapak kakinya langsung menekan-nekan halus. Wajahku mulai terasa panas dan nafasku pendek-pendek, aku mulai horny tetapi aku harus sabar dan tidak boleh terburu-buru, takut Donna shock dan menyebabkan semuanya berantakan. Dengan perlahan, aku mengeluarkan penisku yang telah mengeras dari celana pendek yang kupakai.”cerita sex”
Ketika merasakan benda asing,”cerita sex” Donna tampaknya agak kaget dan terdiam sebentar, tetapi tidak lama kemudian dia mulai menggerakan telapak kakinya kembali. Ujung jari kakinya menyentuh halus biji kemaluanku dan terus naik ke atas sampai ke batang penis dan kepala penisku. Kadang-kadang ditempelkannya seluruh telapak kakinya dan rasanya aku benar-benar hendak muncrat keluar. Kupegang telapak kakinya dan kulebarkan jari jempolnya, kuselipkan batang kejantananku di antara jari jempol kakinya dan kujepitkan kejantananku naik turun. Wah.. rasanya benar-benar nikmat. Kuperhatikan Donna begitu menikmatinya dan aku pun yakin dia pasti sangat horny juga. Karena aku takut air maniku muncrat keluar, kuhentikan jepitan jari kakinya dan kuteruskan memijat. Pelan tetapi pasti, aku mulai memijat pahanya, karena dia juga memakai celana pendek maka dapat kurasakan kehalusan kulit pahanya yang putih dan lembut. Tanganku terus naik ke atas, ke pangkal dalam pahanya, bagian dalam pahanya kupijat pelan sambil sekali-kali kuraba. Dapat kurasakan sekali-kali Donna mengencangkan pahanya, aku yakin liang surganyaya mulai basah. Kemudian aku pindah ke pantatnya, di sana kupijat dengan memutar-mutarkan telapak tanganku sambil menekan-nekan.”cerita sex”
Kulihat Donna mulai menggigit bantal dan menggesek-gesekan vaginanya di ranjang. Karena aku tidak mau permainan ini cepat selesai, maka aku memutuskan menurunkan libido Donna sedikit. Tanganku mulai memijat pinggang dan punggung Donna. Gerakan tanganku biasa saja karena aku menginginkan libido Donna menurun sedikit. Ketika aku memijat bahu Donna, aku sengaja duduk menimpa pantatnya. Sekarang saatnya naik lagi, sambil memijat dan meraba lehernya, batang kejantananku kugesek-gesekan di bokongnya. Sekali-kali kumasukkan jari kelingkingku ke dalam kupingnya dan Donna menggelinjang kegelian. Aku semakin horny, dengan telungkup di atas tubuhnya kujilat-jilat leher dan belakang kupingnya. Donna mendesah-desah kegelian dan keenakan.”cerita sex”
“Oke Donna.. sekarang bagian depan,” kataku sambil membalikkan badannya yang telungkup.
“He eh..” jawab Donna terdengar lemas.”cerita sex”
Setelah Donna terlentang, aku duduk di samping tubuhnya dan mulai memijat pahanya. Kupijat pelan-pelan bagian dalam pahanya, Donna memejamkan matanya dan begitu menikmatinya. Tanganku kunaikkan sedikit, tetapi tidak sampai menyentuh kemaluannya, aku ingin Donna benar-benar terbakar. Kemudian tanganku pindah ke perutnya, kaosnya kusibakkan sedikit. Sambil meraba-raba perutnya yang kencang dan putih, kusempatkan menggelitik pusarnya dengan jari kelingkingku. Nafas Donna terdengar menderu-deru dan dia mulai mendesah-desah keenakan.
“Aduh Om.. geli sekali..,” katanya sambil membuka mata.”cerita sex”
“Ngga apa-apa Donna, tahan sedikit dan nikmati saja.” kataku berusaha menenangkannya.
Posisi duduk kugeser ke samping kepalanya. Sambil tetap memijat dan meraba-raba perutnya, akukeluarkan penisku yang sudah keras. Kudekatkan ke wajah Donna. Bibirnya bergetar karena baru sekali ini melihat penis dan dari dekat sekali. Kubiarkan Donna menikmatinya. Tanganku kuselipkan ke dalam celana dalamnya. Terasa bulu bulunya yang masih halus. Kupijat-pijat sambil kuraba-raba. Sekali kali kusentuh kemaluannya yang benar-benar sudah basah, kutekan-tekan halus klitorisnya, Donna mengelinjang kegelian dan keenakan. Batang kejantananku semakin kudekatkan ke wajahnya dan kugosok-gosokan di pipinya yang halus, mata Donna terpejam malu, tetapi aku yakin ia menikmatinya karena wajahnya memerah dan nafasnya menjadi sangat berat.
“Om.. kepala Donna sakit, nyut-nyutan..,” katanya sambil membuka matanya yang terpejam tadi.
“Oke Donna.. Om tuntaskan permainan ini ya..?” kataku sambil menurunkan celana pendeknya sekalian melepaskan celana dalamnya.
Kubuka pahanya lebar-lebar, dan vaginanya benar-benar merangsang, basah mengkilap dan merah. Pelan-pelan mulai kujilat pahanya dan terus naik ke bagian dalam.
“Shh.. ah.. geli Om..,” Donna menggelinjang.
Kujilat-jilat lubang anusnya, bibir vaginanya dan lubang kencingnya. Terus kujilat-jilat klitorisnya sambil menghisap dan menggigit-gigit kecil.
“Ah.. Om.. Donna ngga tahan Om..,” Donna mulai meracau liar.”cerita sex”
Sementara itu pinggulnya mulai bergoyang-goyang.
“Tahan sebentar Donna dan nikmati saja,” kataku.
Terus kujilat dan kuhisap klitorisnya, jari telunjukku kutusuk sedikit-sedikit ke lubang anusnya, sementara tanganku yang satunya meremas-remas payudaranya dan memilin-milin putingnya yang sudah keras.
“Aduh.. ampun.. Om.. shh.. ahh..,” suaranya serak.
“Om.. Om.., enak.. geli.. ahh.. aduhh..,” racaunya.
Kupikir sekaranglah saatnya untuk membuat Donna merasakan orgasme. Kupercepat semua gerakanku, semakin cepat dan cepat. Dan meledaklah Donna, pinggulnya terangkat, sehingga badannya melengkung.
“Ahh.. shh.. aduhh.. shh..,” teriak Donna.”cerita sex”
Rupanya dia telah sampai ke puncak orgasme. Cairan dari liang wanitanya mengalir deras dan kuhisap serta kujilat habis. Benar-benar enak dan baunya merangsang sekali. Donna terbaring lemas, matanya terpejam, nafasnya masih tersenggal-senggal, tetapi mulutnya tersenyum manis. Kuambil tissue dan kubersihkan vaginanya, kucium lembut bibir kemaluannya, kemudian kupakaikan lagi celana dalam serta celana pendeknya.”cerita sex”
“Kamu pasti lemas dan mengantuk ya..? Tidurlah..!” bisikku kepada Donna dan kucium keningnya.
Terima kasih Om, lain kali kita ulangi lagi ya..?” jawab Donna sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Beres.. kamu tinggal ngomong saja..,” kataku sambil membalas kedipan matanya.
Kemudian aku keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi untuk masturbasi. Bagaimanapun aku tidak tega memperawani keponakanku sendiri, cukup oral seks saja dengannya.”cerita sex”
Aku lanjutkan dengan pengalamanku bersama Vivian yang berumur 13 tahun dan baru duduk di kelas I SMP.
“Om.. ajarin Matematika dong, ada PR sekolah yang Vivian ngga ngerti.” panggilnya dari dalam kamar.
“Bagian mana yang ngga ngerti?” tanyaku sambil menghampirinya dan duduk di kursi sebelahnya.”Ini nih.., bagian persamaan kuadrat,” jawabnya.
Mulailah aku menerangkan tahap demi tahap kepadanya, kebetulan aku sendiri menyukai Matematika. Setelah setengah jam, semua PR Vivian selesai dikerjakannya.
“Oke Vivian.., sudah selesai semua dan Om mau tidur siang,” kataku sambil berdiri dari kursi.
“Sebentar Om.., jangan tidur dulu.., tolong dong pijatin tangan Vivian, memar nih..,” ujarnya seraya menunjukkan lengannya yang memar”cerita sex”
Kulihat lengannya memang memar dan kuajak dia duduk di lantai. Kupijat bagian yang memar dan dia meringis kesakitan. Sambil kupijat, aku melirik payudaranya yang sudah tumbuh dan glek.. aku menelan ludah. Timbul pikiran nakalku untuk mengerjai Vivian. Sambil memijat lengannya, aku memikirkan bagaimana caranya supaya bisa ngerjain Vivian. Lagi asyik berpikir, tiba-tiba aku terkejut karena Vivian dengan santainya meletakkan telapak tangannya di atas kemaluanku. Wah.. pucuk di cinta, ulam tiba nih. Aku pikir Vivian pasti sengaja dan kemaluanku mulai mengeras. Tangan Vivian mulai meraba-raba dan meremas halus kemaluanku. Matanya mulai terpejam dan nafasnya berat, kulihat wajahnya mulai memerah. Aku diamkan saja dan mulai menikmati. Ternyata ABG sekarang nafsunya besar-besar, mungkin hormon mereka juga besar.”cerita sex”
“Om.. boleh ngga Vivian tiduran di paha Om..?” tanyanya.
“Boleh.. boleh..,” jawabku kegirangan.
Dan Vivian meletakkan kepalanya di pahaku. Tangannya masih tetap membelai-belai dan meremas halus kemaluanku yang berdenyut denyut. Wah.. aku jadi tambah horny. Tangan Vivian semakin berani, dimasukkannya ke dalam celana pendekku melalui pahaku. Disibakkannya celana dalamku dan mulai diremas-remas biji kejantananku. Tanganku sendiri asyik meremas-remas payudaranya yang montok dan mencuat. Kuselipkan tanganku ke balik kaos yang dipakainya dan kusibakkan BH-nya. Mulailah kupilin-pilin putingnya yang masih kecil tetapi sudah mengeras.”cerita sex”
“Ooo.. shh.. gelii.. Om..,” Vivian mulai mendesah, “Aduh.. ahh.. shh.. enakk.. teruss..,” suaranya terdengar begitu merangsang.
Pahaku mulai diciumi Vivian, sekali-kali dijilatnya. Aku benar-benar kegelian, kurasakanpenisku mulai basah. Apakah Vivian sering nonton blue film, kok pintar begitu, atau memang sedang puber?
“Om.. boleh ngga lihat anunya?” malu-malu Vivian bertanya kepadaku.”cerita sex”
“Boleh.. boleh..” jawabku sambil melepaskan celana pendek serta celana dalamku.
Dia tampaknya benar-benar horny, tangannya gemetar memegang penisku yang tegang dan membengkak. Kuambil tangannya yang lain dan kuarahkan ke biji kemaluanku. Vivian secara otomatis mulai meremas-remas batang dan biji kejantananku dan aku juga mulai meremas-remas payudaranya serta sekali-kali memilin putingnya. Kami lakukan itu sekitar 15 menit.
Vivian.. jilat dong penis Om..,” aku mulai membujuknya.
“Tapi Vivian ngga pernah dan ngga bisa Om..,” jawab Vivian malu-malu.
“Anggap saja kamu lagi jilat ice cream atau permen begitu..” kataku sambil mendekatkan batang kejantananku ke mulutnya yang mungil.
Dan Vivian tidak lagi menolak, dia mulai menjilat batang penisku, lidahnya begitu kecil danmenimbulkan sensasi yang luar biasa. Tanganku memegang kepalanya dan mengarahkan ke buah kejantananku, terus turun ke lubang anusku, naik kembali ke buah kejantananku, naik ke batang dan berakhir di kepala kemaluanku, demikian berulang kali naik turun. Setelah kurasakan Vivian mulai mahir, kulepaskan tanganku yang memegang kepalanya. Amboi.. sebentar saja Vivian sudah menguasai pelajaranku. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam celana pendeknya dan terus menyibak celana dalamnya.”cerita sex”
Aku mulai meraba-raba vaginanya yang masih gundul alis botak tidak berbulu. Vivian menggelinjang kegelian, tetapi masih tetap menjilati batang kejantananku. Kepalaku mulai nyut-nyutan dan darahku semakin kencang mengalir, wah.. harus cepat-cepat nih. Dengan jari tangan kubuka lipatan vagina Vivian dan kuputar-putar di klitorisnya, sekali-kali kuarahkan jariku ke lubang anusnya dan kutusuk-tusuk lembut. Pinggul Vivian bergoyang-goyang antara kegelian dan sekaligus nikmat.
“Vivian.. sekarang masukkan penis Om ke dalam mulut kamu dan hisap pelan-pelan.” kataku terengah-engah.
Vivian memasukkan batang kejantananku ke mulutnya dan mulai menghisap-hisap.
Kugoyang-goyangkan pinggulku sehingga penisku keluar masuk mulutnya yang mungil. Tanganku tidak berhenti mempermainkan vaginanya. Dan tiba-tiba kulihat pinggul Vivian semakin cepat bergoyang, ah.. dia pasti hampir orgasme. Aku pun semakin mempercepat goyangan pinggulku dan penisku semakin cepat keluar masuk mulutnya yang mungil, tanganku pun semakin cepat memilin-milin klitorisnya. Pinggul Vivian terangkat ke atas, pahanya menjepit jari tanganku. Bersamaan itu, di dalam mulutnya, batang kejantananku memuntahkan air mani yang begitu banyak, sebagian tertelan olehnya dan sebagian mengalir keluar dari ujung bibirnya. Ooo.. nikmatnya.., setelah orgasme yang bersamaan, Vivian terbaring lemas di lantai. Kuambil tissue dan kubersihkan mulutnya serta liang kegadisannya. Setelah bersih semua, kurapikan kembali celana pendek dan kaosnya. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum persis senyum Donna kakaknya. Kucium keningnya dan terus keluar kamar. Pasti nyenyak tidur siangku hari ini.”cerita sex”
Terakhir adalah pengalamanku bersama Lisa yang berumur 11 tahun dan baru duduk di kelas V SD. Di antara mereka bertiga, si Lisa inilah yang paling cantik dan sangat manja denganku. Aku tidak malu-malu mencium pipinya yang halus dan dia pun tidak malu-malu duduk di pangkuanku. Kadang-kadang penisku sakit karena diduduki Lisa dengan mendadak, tetapi kupikir dia tidak sengaja. Pada suatu malam Minggu, abang sepupuku, istrinya, Donna dan Vivian pergi menghadiri pesta pernikahan. Di rumah tinggal aku, Lisa dan dua orang pembantu. Jam di dinding menunjukkan pukul 19:30. Di ruang keluarga, hanya aku dan Lisa yang sedang menonton televisi yang kebetulan saat itu menayangkan film barat, sedangkan dua orang pembantu berada di kamar mereka.”cerita sex”
“Om.. pangku Lisa dong..” kata Lisa dengan manjanya.
“Yuk.. sini duduk di pangkuanku,” kataku sambil menarik tubuhnya ke pangkuanku.
Setelah Lisa duduk di pangkuanku, kucium pipinya yang putih seperti biasanya.
“Ih.. Om genit deh..” kata Lisa sambil memukul pahaku.”cerita sex”
Aku hanya tertawa dan melanjutkan tontonan di televisi. Sambil menonton, kami bercerita mengenai jalan cerita film tersebut.
“Om.. Lisa agak dingin nih, peluk Lisa dong..” pinta Lisa dengan manja.
Maka kupeluk badannya yang masih kecil sambil sekali-kali kucium pipinya yang membuatku gemas.
Setelah kupeluk sekitar 15 menit, aku merasakan duduk Lisa tidak mantap, pinggulnya bergerak terus. Aku melebarkan kakiku sehingga lebih rileks dan pada saat itu mendadak Lisa memundurkan pinggulnya sehingga menempel di kemaluanku seperti biasanya. Karena sudah biasa aku tidak kagetdan diam saja. Tetapi semakin lama Lisa semakin gelisah dan pinggulnya mulai menggesek-gesekke arah kemaluanku. Mau tidak mau, kemaluanku jadi berdiri tegak dan mengeras. Merasakan kemaluanku mengeras, Lisa semakin merapatkan pinggulnya dan menggesek-gesekanya. Konsentrasiku menonton film di televisi mulai buyar. Aku memandangi Lisa dan berpikir apakah mungkin anak ini juga sudah mengenal libido? Rasanya tidak mungkin karena baru berumur 11 tahun. Memang kadang-kadang secara tidak sengaja, aku menyentuh dadanya dan terasa sudah ada yang tumbuh di sana.
“cerita sex”
“Lisa.. Om mau nanya kamu, tapi jawab yang jujur dan ngga usah malu-malu ya..?” kataku kepadanya.
“Nanya apaan sih Om..?” tanyanya sambil tersenyum.
“Apakah kamu sudah pernah menstruasi?” tanyaku langsung.
“Sudah Om.. setahun yang lalu Lisa mulai mens..” jawabnya tersipu-sipu karena malu.
“Ha..? Umur 10 tahun sudah mens.., wah-wah.. ternyata anak sekarang semakin cepat pertumbuhannya.” pikirku.
Jelas saja Lisa kelihatan mulai gatal dan suka duduk di pangkuanku. Apalagi sekarang dia mengesek-gesekkan pinggulnya ke arah kemaluanku yang mulai mengeras. Berarti dia sudah mempunyai libido dong.”cerita sex”
Akhirnya kubiarkan saja Lisa mengesek-gesekkan pinggulnya ke kemaluanku yang tegang dan membesar. Aku pun mulai menikmatinya. Tanganku yang memeluknya mulai bergerilya. Pelan-pelan kuraba dadanya yang baru tumbuh dan mulai kuremas. Benar-benar payudaranya masih kecil dan sangat kencang. Lisa hanya memakai kaos dalam, karena mungkin memang tidak ada BH yang kecil. Dapat kurasakan putingnya yang mengeras dan baru sebesar kacang ijo. Kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya itu, dia menggelinjang kegelian.
“Om.. gelii.. Om..” Lisa mendesah halus.”cerita sex”
“Kamu diam saja.., rasanya enak kok..” jawabku.
Aku mulai mencium pipinya, lehernya dan kujilat-jilat belakang telinganya, sekali-kali kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan Lisa menggeliat kegelian, nafsuku semakin naik.
“Aduh.. gelii.. gelii..” Lisa menjerit kecil.”cerita sex”
Tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya dan terasa kulit tubuhnya yang begitu halus. Tanganku mulai turun ke bawah dan terus ke selangkangan Lisa. Sama seperti Vivian, Lisa pun masih gundul alias botak. Tanganku meraba-raba vaginanya yang kecil dan mulai kuselipkan jariku membuka lipatan kegadisannya. Klitorisnya begitu kecil dan lembut dan mulai kupilin-pilin serta menekan halus.”cerita sex”
“Shh.. ahh.. aduhh.. shh.. shh..” Lisa mendesah-desah karena keenakan.”cerita sex”
Sementara itu lidahku terus bermain di leher dan telinganya, tangan kiriku terus meremas-remaspayudaranya yang kecil sambil memainkan putingnya.
Tubuh Lisa tersandar lemas ke tubuhku dan pinggulnya semakin kencang menggesek-gesek batang kejantananku yang mulai basah. Sekali-kali paha Lisa mengejang dan menjepit jari tanganku, kubiarkan Lisa menikmati pengalaman pertamanya. Terus kulanjutkan semua gerakanku dan tiba-tiba Lisa mengerang kecil, pinggulnya terangkat ke atas, pahanya mengejang dan menjepit jariku. Lisa mendapatkan orgasmenya yang pertama dan mengerang terus.
“Ahh.. shh.. shh.. ahh..” suara Lisa tersendat-sendat.”cerita sex”
Cepat-cepat kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan kuputar-putar lidahku. Aku sendiri mengalami orgasme yang hebat, air maniku menyemprot di dalam celana dalamku sehingga aku merasa celana dalamku basah kuyup bagai kencing di dalam celana.”cerita sex”
Setelah Lisa tenang, kukeluarkan tangan kananku dari dalam celananya dan tangan kiriku dari dalam kaosnya. Tubuh Lisa masih tersandar lemas di tubuhku, kucium lembut pipinya, matanya terpejam dan bibirnya tersenyum mirip senyuman Donna dan Vivian kakaknya. Kuangkat tubuhnya dan kugendong ke kamarnya. Dengan hati-hati kuletakkan di atas ranjang dan kuselimuti. Kucium pipinya sekali lagi dan kumatikan lampu kamar dan aku keluar melanjutkan tontonan film di telivisi.

Wednesday, October 25, 2017

Desahan Enak Gilabet



Cerita Dewasa - Kisah dewasa terlengkap, Seminar tentang management terkadang merupakan refreshing dari kesibukan di kantor, apa lagi kalau pembicaranya menarik. Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu berminat, tapi karena tugas dari kantor maka mau tidak mau harus berangkat juga.

Session pertama tidaklah terlalu menarik, topiknya bagus tapi pembicaranya terlalu datar dalam menyampaikan, begitu juga pembicara kedua tidak ada yang istimewa hingga acara makan siang. Session ketiga adalah paling berat, dimana serangan kantuk datang, pembicaranya haruslah pintar membawa suasana.

Begitu session ketiga, berjalanlah ke podium seorang wanita cantik dengan anggunnya, menyihir pesona peserta seminar. Dengan santai dan penuh percaya diri dia duduk di deretan pembicara dan moderator, lalu sang moderator membacakan Curiculum Vitae dia, namanya Natasya Kusumawati. Tersentak aku mendengarnya setelah semua CV dibaca.
Kupandang lebih seksama, aku hampir yakin bahwa dia adalah Nana, teman SMA dulu, wanita pertama kepada siapa aku jatuh cinta dan wanita pertama pula yang membuatku patah hati karena cintaku yang tidak terbalas.
Selama session dia, aku tidak dapat mengkonsentrasikan pada materi seminar, kunikmati penampilan Bu Natasya, nama resminya, hingga tidak terasa session dia sudah habis dan dilanjutkan dengan coffea break.
Bu Natasya dikelilingi banyak peserta seminar untuk melanjutkan tanya jawab yang tidak terakomodir di forum seminar. Dengan tangkasnya dia menjawab semua pertanyaan. Hingga pada suatu kesempatan dimana dia sendirian saat mengambil kue, kusapa dia dengan nama akrabnya.
“Nana ya..?” sapaku agak ragu.
Langsung Bu Natasya membalikkan badannya, rambutnya yang terurai menebarkan harum semerbak.
“Haii.., Hendra ya..?” sapa Nana terkejut.
“Kamu sekarang lain, tidak seperti waktu dulu masih SMA, jauh berubah..” lanjut Nana, ada binar kebahagiaan di matanya.
“Kamu juga lain, congratulation good presentation, banyak kemajuan baik penampilan maupun kedewasaan..” balasku.
“Gimana kabarmu dan dimana aja kamu selama ini..?” lanjutku.
“Aku di sekitaran sini aja setelah dari Australia, sekarang aku nginap di hotel ini, habis ini mampir ya, aku udah kangen pingin tahu cerita lainnya..” jawab Nana kegirangan.
“Oke, abis acara ini bagaimana..?” usulku.
“Oke aku di kamar 806, langsung aja ke kamar setelah acara..” katanya sambil meninggalkanku karena acara berikutnya segera dimulai.
Sisa session sudah tidak kuperhatikan lagi, bayangan Nana masih terbayang di mataku, sungguh anggun dan dewasa penampilannya. Setelan jas dan baju kerjanya tidak dapat menutupi postur tubuhnya yang dari dulu kuimpikan, malah lebih seksi, dan penampilannya yang penuh percaya diri menambah keanggunan dan inner beauty-nya.
Pukul 4.30 sore acara sudah selesai, bergegas aku menuju lantai 8 kamar 06 yang ternyata letaknya di pojok. Agak ragu kupencet bell di pintu. Tidak lama kemudian muncullah Nana dari balik pintu, dengan mengenakan pakaian santai t-shirt dan celana pendek sungguh jauh berbeda dengan penampilan saat di podium. Sekarang kulihat Nana yang kukenal dulu, tidak jauh berbeda, dengan make-up tipis nyaris tidak kelihatan, dia begitu cantik alami.
“Sorry agak lama ya, abis aku tadi ketiduran sih, masuk Hend, santai saja.., anggap rumah sendiri..,” sapanya sambil mempersilakan aku masuk.
“Ah nggak apa..” jawabku.
“Baru bangun tidur saja cantiknya seperti itu,” pikirku.
“Nggak ada yang marah nih kalau kita berdua saja di kamar..?” kataku mulai memancing.
“Ah nggak ada, paling juga bini kamu..,” jawabnya.
Akhirnya kami mengobrol dan bernostalgia, kemudian aku tahu kalau dia tidak punya anak dan sudah berpisah dengan suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena mereka sama-sama mengejar karier, dan suaminya punya affair dengan rekan sekantornya. Untuk menghibur diri dan pelarian, Nana melanjutkan study managemant di Australia, dan sekarang inilah dia, seorang wanita karier dan consultant management yang sedang menanjak.
Aku permisi ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat benda aneh di tumpukan handuk setelah kuperhatikan, ternyata sebuah set vibrator dengan berbagai ukuran dan model, pikiranku mulai menebak-nebak dan memaklumi perbuatannya, sebagai seorang wanita normal kebutuhan sex memang perlu, apalagi sudah beberapa tahun tanpa lelaki pendamping. Lagi asyik aku memperhatikan vibrator itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
“Hend, mandi aja sekalian..” teriak Nana dari luar.
“Eh.., anu.. emm.. emang aku ingin mandi kok..!” jawabku gugup dan sekenanya.
Segera kubuka pakaianku sambil mengamati peralatan toiletrees miliknya, ternyata kutemukan juga lubricant alias pelumas, mungkin pasangan vibrator pikirku lagi.
Setelah aku selesai mandi, gantian Nana mandi, ternyata dia sudah menyiapkan kimono untukku. Tidak lama kemudian dia selesai mandi dan hanya berbalut handuk di tubuhnya. Nana keluar kamar mandi, takjub aku dibuatnya, tubuhnya begitu mulus dan seksi.
“Hend, kamu tadi lihat ini ya..?” katanya penuh selidik sambil mempertunjukkan vibratornya.
“Eh.., anu.., nggak sengaja kok, maaf ya, sunguh aku nggak sengaja, jangan marah ya..,” kataku membela diri takut dia marah karena privacy-nya terganggu.
“Nggak apa kok, kita sama-sama dewasa. Selama ini alat inilah yang memuaskan kebutuhanku.” katanya tanpa ada nada sungkan, tapi kulihat kepedihan di matanya.
Kupegang tangannya dan kutarik Nana ke pelukanku, dia tidak melawan dan membalas pelukanku, kepalanya disandarkan di bahuku, harum rambutnya membuat birahiku naik.
“Hend, temani aku malam ini, I’ll do everything for you, demi masa lalu kita, ya, please..!” bisiknya meminta dan merajuk.
Tanpa menjawab, kucium keningnya, pipinya dan kulumat bibir manisnya, terasa begitu lembut dan penuh getaran-getaran yang aku sendiri tidak tahu. Jantungku berdegub kencang, aliran darah serasa mencapai ubun-ubun, dan dengan sedikit gemetar tanganku membelai rambutnya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, berhadapan dengan Nana, kepada siapa aku pertama kali fall in love, membuatku menjadi begitu nervous. Aku hanya berani mencium pipi dan bibirnya saja, tidak ada keberanian untuk lebih jauh, meskipun nafsu sudah meninggi. Ternyata Nana salah pengertian, dia melepaskan pelukanku.
“Hend, kalau kamu keberatan temani aku nggak apa kok, aku mengerti dan nggak marah,” katanya sambil memandang mataku dengan tajam.
“Bukan itu Na, terus terang aku nervous berhadapan sama kamu, mengingat masa lalu cinta yang nggak kesampaian,” jelasku.
Nana langsung menerjang ke pelukanku hingga kami berdua terjatuh ke ranjang. Kembali mulut kami memadu kasih, permainan lidah yang sungguh indah karena bukan hanya sekedar nafsu, tapi ada feeling yang tidak terlukiskan.
Sepertinya kami saling melepas rindu yang sudah jauh terpendam. Kugulingkan tubuh kami hingga sekarang aku menindih tubuh Nana, ciumanku langsung mendarat di lehernya yang jenjang, tanganku menarik handuk penutup tubuhnya hingga terlepas, dan ternyata dia sudah tidak memakai pakaian dalam lagi. Kulepas kimono dan celana dalamku, sambil menikmati keindahan tubuh Nana yang sudah telanjang, ternyata jauh lebih indah dan lebih seksi dari imajinasiku.
Badannya yang putih mulus sangat menggoda, buah dadanya yang tidak tampak menonjol di balik jas dan blasernya tadi siang ternyata cukup montok dan kencang, paling tidak 34C. Perutnya rata seperti halnya seorang peragawati, dan yang paling seksi adalah bulu rambut bawahnya dirapihkan hingga membentuk V, pemandangan yang tiada duanya.
Aku kembali naik ke atas tubuhnya, kucium dan kujilati lehernya, terus turun hingga ke belahan buah dadanya, kunaiki bukit itu hingga putingnya yang masih kemerahan. Jilatanku menggoda dan mengundang kegelian pada Nana, dibelainya rambutku.
“Ssshh.. sshh.., trus sayang..! Yaa.. he.. emm..!” desahnya.
Jilataan dan sedotanku berpindah dari puncak satu ke lainnya, sambil tanganku mengusap bibir vaginanya yang ternyata sudah basah.
Nana menggelinjang, entah sudah berapa lama tidak dicumbu oleh laki-laki, cengkeraman di rambutku makin kencang dan desahannya semakin keras. Lidahku sudah menjelajah ke daerah perut, berlanjut hingga paha. Kupermainkan jilatan di lututnya, membuat dia menggeliat-geliat, kemudian betis, terakhir kukulum jari-jari kakinya kiri dan kanan.
“Hend, kamu sungguh romantis..,” katanya sambil melihatku menjilati jari kakinya.
Giliran selanjutnya adalah selangkangan, aromanya sungguh merangsang, kujilati dari bibir luar hingga masuk ke dalam.
“Aaagghh.., sshh.. hhmm.. yess..!” desah Nana ketika kujilat sambil kumasukkan jari tanganku ke vagina dan mengocoknya.
Kumainkan lidahku menjelajahi bibir dan luar vagina, jilatan terus turun hingga ke lubang anus dan kembali lagi ke bibir vagina. Tidak tahan diperlakukan seperti itu lebih lama, Nana memintaku untuk telentang, kemudian dia bersimpuh di antara kakiku.
“Ini adalah penis kedua yang kupegang setelah suamiku, jauh lebih besar dari punya dia, dan aku tak pernah malakukan ini.” kata Nana langsung menjilati ujung kejantananku.
Sambil mengocok, dimasukkan kepala kejantananku ke mulutnya, tanpa kesulitan yang berarti dia mengulum lebih dari setengah batang 17 cm penisku (mungkin biasa dengan dildo), lalu dikocoknya keluar masuk dengan mulut mungilnya. Takut keterusan, kutarik tubuhnya hingga dia telentang, kemudian kembali kutindih tubuh sexy-nya.
Kali ini kami sama-sama telanjang, bagitu hangat. Kami berciuman lagi, sementara tangan Nana menuntun kejantananku ke vaginanya, disapukan ke seluruh permukaan bibir vagina dan dengan sekali dorong amblaslah kejantananku ke vagina yang pertama kali kuimpikan, masuk semua.
“Aaahh.. sshh.. yaa.. oeh.., yaa..!” desahnya.
Kubiarkan sesaat, kami berdua sama-sama tidak bergerak, saling menikmati saat-saat indah yang sudah lama kudambakan. Kupandangi wajahnya dengan penuh kasih, sorotan matanya memancarkan kerinduan yang dalam.
“Hend, I miss you soo much..!” katanya sambil mencium bibirku.
Perlahan kutarik keluar, tapi Nana menahannya, memintaku untuk tetap diam.
“Biarkan aku menikmati saat indah ini..,” katanya lagi, hingga terasa denyutan ringan dari dalam vaginanya, kuanggap sebagai tanda.
Maka pelan-pelan kutarik keluar, kemudian pelan-pelan pula kudorong masuk lagi.
“Ooouugghh.. yess.., Hend.. fuck mee..!” desahnya.
Pinggulku makin cepat turun naik, kocokanku bertambah cepat dan keras aku menyodoknya.
“Fuck mee..! Pleaassee.., harder.. harder.., yess.. begitu.., teruss..!” Nana mulai mengerang.
Berulang kali dia mencium dan mengigit ringan bibirku karena gemas, tangannya mencengkeram tanganku, sementara satunya meremas ujung bantal. Kaki Nana menjepit pinggangku sehingga pinggulnya sedikit terangkat, lebih memudahkan aku untuk mendorong lebih dalam dan lebih cepat. Erangan dan desahan Nana makin keras, sepertinya dia meluapkan rasa dahaganya, pinggulnya ikut bergoyang mengimbangi goyanganku.
Tiba-tiba Nana terdiam, remasan di tanganku makin kencang.
“Sayang, aa.. kuke.. ke.., lu.. aarrgghh.., yaa.. yess..! Oh my god.., yess.., Heenn..!” teriak Nana ketika kurasakan denyutan berkepanjangan seirama dengan teriakan Nana, kemudian tubuhnya melemas.
Kuhentikan gerakanku untuk memberi dia waktu, tapi sepertinya Nana tidak mau berhenti, pinggulnya kembali bergoyang.
“Ayo sayang, keluarkan di dalam, aku sudah lama tidak merasakan semprotan sperma di vaginaku..,” pinta Nana mempercepat goyangannya.
Kunaikkan kembali tempo goyanganku dan makin keras, apalagi setelah Nana menaikkan kakinya ke pundakku, kejantananku serasa menyentuh dinding rahimnya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Nana, goyangan dan gelinjangan tubuh Nana membuatku tidak dapat bertahan lebih lama, ditambah perasaan kangen yang mendalam sehingga pertahananku runtuh, maka menyemburlah spermaku di vaginanya.

“Ooouuhh.., yess.. oohh my god yess, ya Sayang.., terus.., yess.. oh.., I like it.., yess.. oohh..,” desahnya ketika semburanku menghantam dinding vaginanya.
Denyut demi denyut mengalir di liang vaginanya, ternyata teriakannya lebih histeris dibandingkan kalau dia sendiri yang orgasme. Dapat dimaklumi, karena vibrator maupun dildo tidak dapat memberikan sensasi denyutan yang seperti itu, dan hal itu mengisi dahaga Nana. Kami berciuman lagi, hingga kejantananku melemas dengan sendirinya.

“Thank you Hend.., kamu telah mengisi kedahagaanku, I love you..,” katanya sambil kembali menciumku dan kami telentang sambil berpelukan, kepalanya direbahkan di dadaku.
Sesaat kami terdiam mengenang peristiwa indah yang baru terjadi, impian yang menjadi kenyataan setelah lebih dari sepuluh tahun terpendam……